Sabtu, 20 Februari 2016

Sekelebat Sunyi

“Aku tahu kita memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Banyak orang berkata pula bahwa kelebihan dan kekurangan itu diciptakan untuk saling melengkapi. Bahkan kalian pasti setuju pula dengan hal yang berpasang-pasangan itu. Itu pula mengapa dia (pendiam) kini berpasangan dengan aku (yang lebih cerewet).
Ini bukan perjumpaanku yang pertama dengannya. Namun degup jantungku masih pula tak beraturan. Dia kekasihku sudah sejak 9 bulan yang lalu. Sejak itu pula aku mulai mengenalnya. Caranya berjalan dan nada bicaranya. Ketika itu aku sedang kesal karena tahu bahwa ia tak akan mengantarkanku ke kota perantauanku (baca: Malang). Pipiku sudah mengembang bagai kue bolu yang terlalu banyak pengembang. Juga tatapku yang kala itu tak ingin menatap siapa pun. Hanya kerikil di jalanan yang tak kesepian, juga derap langkah yang saling berkejaran. Dia sudah berdiri tepat di depan gang kontrakannya. Remang-remang aku menatapnya, namun aku tahu itu adalah dia. Ya.. Kekasihku yang sangat pengertian dan begitu penurut.
Aku tak menoleh atau pun tak menghentikan langkahku ketika aku melewatinya. Kini dia sudah ada di sampingku dan menyenggol-nyenggol pada tasku yang begitu sesak kala itu. Aku hanya terdiam kesal bila mengingat bahwa ia harus sibuk dengan organisasinya di saat liburan seperti ini. Aku mengunci rapat mulutku. Bahkan mungkin minusku akan bertambah ketika aku melihat wajahnya. Ya.. Dia masih terus menggodaku. “Aku akan mengantarmu ke Malang.” Sontak perkatannya membuatku menatapnya dan juga ransel hitam yang digendongnya. “Dengan tas yang tak ada isinya itu?” Ucapku kemudian. “Kamu jangan menghibur aku. Aku tahu kamu sibuk. Jadi, tak usah khawatir. Tak akan ada yang mau menculikku.” Ucapku mencoba tegar. Tapi, dia selalu membuatku bisa tertawa, bahkan ketika hati ini sedang tak baik-baik saja. Secamacam stimulan. Ya.. Atau enzim, yang membuat suatu pekerjaan menjadi lebih mudah. Aku mudah melepas penat yang mengganjal. “Ikut aku ke Malang pliss..” Kataku merengek. Aku mulai jujur padanya.
Aku setuju. Usia tak mencerminkan seberapa dewasa dirimu. Jika kau lebih muda dariku, belum tentu kau lebih kekanak-kanakan dariku. Aku bisa melihat itu. Tatapanmu yang seolah merasa bahwa aku adalah adikmu yang perlu kau lindungi. Atau kah semacam pendestruksian? Ya.. Kau berhasil mendestruksi moodku yang sedang kacau. “Aku juga butuh liburan. Aku masih bisa mengerjakan tugasku karena esok aku sudah kembali ke Surabaya.”
Sepanjang jalan itu aku berniat untuk tidur. Aku akan senang karena kali itu aku sedang bersamanya dan kemungkinan ia akan menjagaku. Namun, ekspektasi dan realita sedang berbanding terbalik saat itu. Aku menjaganya. Bukan karena aku lebih tua darinya. Aku melihat wajahnya yang begitu kelelahan. Aku merasa bersalah kala itu. Belum lagi aku yang memaksanya untuk menemaniku. Namun, aku merasa beruntung. Dia selalu mencoba membuatku bahagia. Meski tak jarang ia mengatakan bahwa dirinya masih belum bisa membahagiakanku. Ya.. Kami hanyalah remaja yang sedang saling jatuh cinta. Mencintai sewajarnya usia kami dan mencoba saling mendewasakan.
***
Pagi sekali ia sudah membangunkanku. Mengajakku berkeliling atau sekedar mampir ke alun-alun. “Aku sudah di depan.” Bisa kubayangkan wajahnya yang menaruh seribu rahasia itu sedang berdiri kesepian karena pagi masih cukup pagi. Wajah itu masih belum terlepas dari kelelahan. Raut wajahnya, tatapnya, langkahnya, bahkan caranya menggenggam tanganku, begitu mengisyaratkan kegundahan. Apakah karena kami sama sama lahir di bulan November? Yang kami perlihatkan pada dunia, belum tentu watak kami yang sebenarnya.
Angkutan GL membawa kami menuju alun-alun. Kami duduk berhadapan. Kadang, tatap ini bertabrakan lalu diikuti senyum malu-malu yang memalukan. Suasana di sana sudah ramai. Bangku-bangku di taman itu pun kebanyakan sudah terisi. “Ayo cari makan dulu. Aku lapar. Hehe.” Ajaku ketika sampai di sana. Sudah kami putuskan bahwa kami akan makan bakso pagi itu. Pagi yang masih pagi. Langkah kami beriringan mencari tukang bakso. Cuaca sangat cerah. Begitu pula hatiku yang sedang berbunga-bunga. LDR membuatku begitu bahagia ketika diberi kesempatan untuk bertemu dengannya. Kala itu pun adalah pertama kalinya aku mengajaknya ke alun-alun.
“Kamu pindah ke sini, nanti tambah coklat.” Ucapnya ketika perjalanan itu cukup terik. Heran. Kami belum juga menemukan tukang bakso di pagi-pagi yang masih pagi itu. Hingga langkah ini sampai ke titik awal tempat kami turun dari angkutan umum. Saat aku melihat ke deretan kuliner, ternyata ada satu pedagang bakso di sana. Bukan sial atau apa. Ini karena Tuhan masih mengijinkan kami melangkah bersama mengitari pasar. Seperti biasanya, dia selalu menambahkan saus dan kecap. Bukan pula hal yang aneh jika kecap-kecap itu menginginkan lama-lama di tepian bibirnya. Aku tak mau mengelapnya.
“Apa rencanamu ke depan?” Ucapnya memecah konsentrasiku memotong bakso.
“Aku ingin melanjutkan studi.”
“Bagus. Aku ingin bekerja sembari melanjutkan studi juga.”
“Bagus. Kalau begitu, setelah ini kita abadikan momen.” Kataku sambil meniup es jeruk.
Kami berfoto sangat banyak. Entah untuk memuaskan diri atau bagaimana. Pasalnya, setiap kali kami berniat berfoto, apapun alasannya, selalu saja gagal. Namun, perjumpaan kali itu cukup membuat handphone-ku low batt. Seperti biasa, aku mulai bercerita ngaler-ngidul padanya. Ini mungkin karena kemampuan verbal aku yang tinggi membuatku tak henti-hentinya berceloteh. Dan tinggi pula padanya untuk tak bosan mendengarkan ceritaku (walau entah ia menyimak atau tidak). Kadang pula, aku memintanya untuk tertawa ketika aku bercerita hal yang lucu, namun ia tak tertawa sama sekali. Setelah dengan sedikit paksaan, akhirnya senyum ala dia mengembang. Ya.. senyum yang selalu manis. Senyum si ketua umum.
***
Langit akan mengundang hujan. Angin berhembus semakin kencang, menerbangkan debu-debu. Kami berlari menuju masjid dan menunggu hujan di sana. Cukup lama kami berdiam di sana (secara terpisah). Angkutan umum sudah menunggu kami menuju terminal Arjosari. Dia harus pulang lebih awal dengan alasan seniornya menyurhnya bertemu dengannya setelah magrib. Dengan sedih hati dan menampakkan wajah tetap ceria, aku mengantarkannya menuju terminal. Ditemani gerimis yang masih mengundang.
Aku bersalaman dan melambaikan tangan. Aku sempat ingin membelikannya sesuatu untuk dimakan di jalan, namun seperti biasa, aku selalu ditolak. Aku tak berdiam diri menunggu bus yang ia naiki melaju. Aku melangkah dengan hati tak karuan. Rasanya, senyum, tawa, kebahagiaan yang baru saja aku rasakan, bagai mimpi yang begitu cepat membawaku ke dunia nyata. Sepanjang jalan aku memikirkannya. Lelaki yang harus kuat dan tegar sedang dalam perjalanan. Aku tahu, ia tak perlu rasa ibaku. Itu pula mengapa aku tak ingin memperlihatkan atau mengatakan bahwa aku kasihan padanya.
Kamarku kembali sepi, sunyi tak beraroma bahagia. Bahkan aku enggan memasukinya atau sekedar merebahkan tubuh di kasur ber-eprei Micky Mouse. Jendela itu tak aku buka sejak aku datang ke mari. Setelah beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk tinggal di tempat Huril, di Tuban. Aku duduk di lantai. Menatap kosong pada tembok yang juga kosong. Bahkan aku tak mendengar bahwa kerinduan ini masih ingin berada di sampingnya. Aku hanya mendengar- sunyi yang amat sunyi. Di kamar berukuran 2x3. Sendirian tanpa sesiapa pun.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Kartini Nurhasanah Template by Ipietoon Cute Blog Design