Minggu, 28 Februari 2016

Behid the Scane: Bedah Karya FLP Malang

Setiap hari minggu, kami (anak-anak FLP Malang), baik yang sudah resmi jadi anggota ataupun belum, berkumpul di teras Gedung Ir Soekarno di UIN Maulana Malik Ibrahim. Saya merupakan non-member di sana. Namun, Mbak Wulynee mengizinkan saya untuk gabung setiap minggunya. Pertemuan kali ini sama seperti minggu sebelumnya, yaitu bedah karya. Karya Mas Muchtar yang selanjutnya disebut Mas Momo adalah karya yang akan dibedah di pertemuan ini.
Pertemuan rutin itu biasa dimulai pukul 13:00-16:00. Entah karena faktor cuaca atau faktor penghambat lainnya, saya, Mbak Wulynee, dan Mas Momo datang terlambat. Hujan mengguyur Malang cukup lebat. Cukup membuatku melipat celanaku 3 kali, dan cukup pula membuat kakiku terendam sepanjang perjalanan yang dilakukan dari Gajayana ke UIN.
Mbak Yenni, Mbak Siro, dan Firda tengah berduduk santai dengan ditemani 8 potong kue (aku tidak tahu itu kue apa), dan beberapa gorengan. Lengkap pula dengan mizone yang masih terbungkus kresek putih. Aku datang sembari mengibas-ngibaskan celanaku yang basah kuyup. Tak lama setelah itu Mbak Wulynee datang dibalut dengan mantel berwarna merah cerah. Dia tampak seperti pinguin. Namun balutannya cukup rapih sehingga dia aman dari hujan.
Kami belum memulai acara bedah karya karena Mas Momo belum datang. Kami dengan bahagia mencomoti kue dan biskuit yang tergeletak di depan mata—tepatnya di lantai. Firda kemudian pergi dan tak lama dari itu datang lagi dengan satu tas dijinjingnya. “Selamat makan semua.” Kami dihidangkan lagi makanan. Tentu bukan makanan ringan. Makana berat yang dapat membuat berat badanmu bertambah 0,09 kg dalam sehari.
Mas Momo datang dengan senyum pengiring keterlambatannya. Dia melihat lantai yang bernada-nada kekenyangan. Ya, makanan sudah habis. Tapi, kami masih menyisakan beberapa kue, gorengan, juga biskuit. Mas Momo membagikan karyanya untuk kami baca. Perlahan semua orang terfokus dengan tulisan  yang berjudul kucing hitam. Berbeda halnya dengan Mas Momo yang memakan biskuit, gorengan yang kesepian.
Kucing hitam. Cerita milik Mas Momo menceritakan kisah seekor kucing dalam menjalani kehidupannya. Menjelaskan rasa lapar si kucing ketika ia tak menemui pengganjal perut. Ketika semua jalanan tengah lengang dan hanya ada dia dan bak-bak sampah yang menanti kunjungannya. Kisah ini cukup menarik. Seolah mengajarkan kita untuk dapat berbagi pada siapapun karena kita tak tahu bagaimana keadaan orang di sekitar. Belajar perduli. Bukan hanya pada manusia. Tapi makhluk hidup yang lain.
Mbak Wulynee sekaligus senior di FLP Malang mulai mengoreksi hasil karya Mas Momo. Mas Momo terlihat pasrah, lalu diam memandangi tulisan yang dimaksud. Berbeda dengan kami, ada yang sibuk membahas kucing (itu aku dan Mbak Umu), ada pula yang rajin menulis koreksinya. Tiba saatnya kami memberi masukan. Diawali dari Mbak Umu. “Matanya terbelalak ketika ada piring. Bukannya kalau kucing itu lebih ke penciumannya ya?” Sambil menirukan gaya kucing mengendus makanan. Melihat ke atas seolah dia adalah seekor kucing di bawah meja yang mengendus bau tongkol. “Biasanya kucing kalau berantem itu jarang bergulat. Dia Cuma beberapa detik cakar-cakaran. Kadang-kadang badannya melengkung terus kejar-kejaran.” Dia kembali menirukan suara kucing mengeong-ngeong  ketika sedang bertengkar.
Aku yang biasanya hanya diam dan mendengar, pun mengangguk-ngangguk seolah mengerti, akhrinya ikut berpendapat. Mungkin ini adalah pertama kalinya aku angkat biacara setelah sekian pertemuan aku lewati. “Kucing tetangga aku itu pengamat keadaan. Kalau mata kita bertemu, dia seketika akan mematung. Hingga aku melakukan satu gerakan, dia akan merespon. Entah hanya gerakan seakan akan lari terbirit-birit atau memang langsung melarikan diri.” Terangku sambil mengamati wajah mereka yang nampak serius memperhatikan ceritaku. “Itu Mo. Masukan buat si hitam.
Kucing Hitam dalam Kabut Malam. Begitu cetus Mbak Wulynee ketika membahas judul cerpen itu. Seolah kami tak bisa move on dari cerita lalu yang juga milik Mas Momo. Kabut pagi kalau tidak salah. Cerita seorang Ayah yang merindukan anaknya yang sudah tak lagi bersamanya karena perceraian yang terjadi. Disusul “Elang”’, “Istana Pasir”, memburu perbincangan kami.
Seperti biasa, kami mengabadikan momen. Mas Momo menjadi kepala keluarga kami saat itu. Kami berjejer seolah sedang berfoto keluarga. Ya. Ini menjadi satu-satunya perkumpulan bagiku. Dengan ini aku belajar berani berucap walau tak jarang bingung dengan apa yang hendak dikatakan. Gugup. Mungkin begitu kata yang tepat.

Malang, 28 February 2016

Sabtu, 27 Februari 2016

Sekilas Obrolan tentang Kepribadian

Berawal dari sebuah grup chatt WA. Perbincangan kami kali itu mengenai parenting. Salah satu teman saya bernama Firdaus Habibi adalah salah satunya yang sedang mempelajari parenting. Kali itu saya sempat share kepada grup mengenai “Dunia Tanpa Ayah”. Sehingga perbincangan kami berlanjut mulai dari pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak, sampai bahasan yang berawal dari curhatan salah satu member tentang “broken home”.
Sebut saja Aang. “Aku dari keluarga broken home. It’s depend by himself sih gimana dia bisa survivenya. Paling penting itu do your best aja lah. The first is Allah. Kalau orang tua aku sih fine-fine aja. Mereka nggak marah-marah kok ke aku. They’re know where is the right place and time. But it’s sometime we know lah when the war was begin hehehe. But, keep stronger aja.”
Kemudian, datanglah salah satu member grup yang sudah menempuh S1 Psikologi di Universitas Maranata. “Saya setuju dengan Mas Aang. Pribadi diri (kepribadian) ikut berkontribusi untuk menentukan kita dalam menilai serta menyikapi suatu masalah. Salah satu tokoh, kalau tidak salah namanya Albert Bandura menjelaskan bahwa tingkah laku merupakan hubungan interaksi antara indidu (trait dari kepribadian)+lingkungan. Lingkungan mengambil pengaruh saat kita nanti akan berprilaku seperti apa. Misalnya, pola asuh orang tua apakah yang mempengaruhi dan bagaimana anaknya berprilaku di masa depan. Kemudian contoh lainnya adalah pengaruh peer group (kumpulan teman sebaya) menentukan kita berprilaku seperti apa sehingga terjadi konformitas. Kita mengamati perilaku, mengobservasi, menginternalisasi, kemudian meniru. Itu adalah dinamika saat memodeling seseorang.
Lalu, tibalah giliran saya untuk berbagi sedikit cerita klasik. Tentunya bukan soal pacaran ya. Begini ceritanya.. Aku di kampus deket sama anak-anak yang super sekali. Kenapa super?
Dia anak orang kaya tapi sering galau dan nilai akademiknya kurang bagus.
Yang 2 orang ini berlatar belakang ekonomi yang biasa saja tetapi mereka berdua pintar.
Yang 2 itu adalah wanita. Yang 1 menyukai Justin Beiber dan yang 1 lagi fanatik sekali dengan lagu, drama, dan semua yang berbau dengan Korea.  Kebetulan aku satu kamar kostan dengan anak yang menyukai Korea itu. Dan aku? Aku termasuk yang mudah dipengaruhi. Aku jadi tipis-tipis suka nyayi lagu Korea. Berbalik dengan mereka. Tak ada satupun yang dapat aku pengaruhi untuk turut serta menyukai lagu yang aku suka seperti lagu Jepang, Pilipin, dll.
Menurut Susanti, “Karena peran individu mempengaruhi. Mbak Kartini mungkin menginternalisasi perilaku teman-temannya sehingga memodeling. Sementara teman-teman Mbak Kartini tidak menginternalisasi perilaku Mbak. Semua orang punya kemampuan memodeling hanya pada bagian-bagian tertentu saja dia ingin menginternalisasi dan ada yang tidak ingin. Jadi,  lebih dikembangkan lagi untuk memodeling hal-hal yang positif.”
(Aku pintar memodeling? Luar biasa) Pikirku ketika aku membaca tanggapan Susanti.
Lanjut perbincangan kami. Kini masalah grafologi. Sempat merasa aneh dengan penampakan tulisan yang tak jarang berubah-ubah. Apakah ini mencerminkan bahwa seseorang itu termasuk orang yang plin-plan?
“Sebenarnya, keadaan tulisan tangan itu adalah representatif keadaan kognitif dan afektif kita saat menulis yang dihantarkan oleh otak melalui saraf tangan dan tertuang dalam tulisan tangan. Saat kita marah dan senang pasti tulisan kita berbeda kan? Walau kenyataannya begitu, walau berubah-ubah, akan ada tanda-tanda yang menggambarkan kepribadian seseorang secara umum.” Tutur Susanti

Berikut saya tuliskan beberapa penjelasan para Psikolog yang ikut hadir dalam perbincangan di grup saat itu.
Tentang seseorang yang terlalu mendengar perkataan orang lain (bisa berarti terlalu menginternalisasi dan memodeling) itu bisa menjadikan ia sosok yang plin-plan. Krena itulah perlu lebih memilih dalam memodeling.
Jika tulisanmu menekan sehingga menimbulkan bekas dibagian belakang halaman kertas tersebut bisa berarti bahwa anda adalah seseorang yang memiliki perasaan mendalam, tegas, namun kadang emosional dan terburu-buru. Perasaan yang mendalam di sini dapat berarti kejadian sesuatu yang menurut anda berkesan atau sangat melekat di memori anda. Jadi, jika sedang merasa bahagia, anda akan sangat bahagia dan sampai memori perasaannya itu sangat melekat. Begitupun dengan persaan marah, kecewa dan lain sebagainya. Jika ada suatu hal yang membuat anda merasa sakit, maka anda bisa saja memaafkan. Namun belum tentu melupakan. Karena itu tadi. Melekat.

Jumat, 26 Februari 2016

Yossi dan Jurnalis Nusantara

“Tak ada yang kebetulan kan? Begitupun aku percaya bahwa pertemuan ini akan menjadi kisah yang mengharukan untuk kita. Hanya kita.”
***
Mataku bertemu dengannya bukan untuk pertama kalinya. Ya, aku kenal suara sepatu itu. Matanya yang indah, senyumnya, bahkan suaranya, masih jelas diingatanku bahwa dia adalah Yossi, temanku di pesantren dulu. Pagi itu masih sepi karena jam buka kantor masih sekitar pukul 07:00. Di depan gerbang sudah berdiri seorang wanita—sebut saja dia akan melamar pekerjaan. Map putih di pangkuan, rok panjang menjuntai hingga paving blok, dan botol minum di samping kiri tasnya. Tunggu, rok? Belum lagi aku sadar bahwa  wanita itu mengenakan jilbab. Ini kejadian langka, jarang sekali ada wanita berjilbab yang melamar kerja di kantor ini: kantor Nusantara, tempat berkumpulnya para jurnalis dari Indonesia.
Dia membungkuk menyambut kedatanganku. Samar giginya yang putih terlihat. Mungkin ia sedang tersenyum. Aku masukkan tanganku mencari letak kaca mataku. “Hi, my names Yossi. Im looking for my brother, Reza.” Suaranya menyapa pendengaranku yang masih kaku. Lagi-lagi karena masih pagi. “Oh.. Hi! My names Robi. Please wait a moment.” Sambil berjalan menuju lobi, ia mengikutiku. “Have a sit.”
Aku undergraduate yang bekerja part time di kantor ini. Aku belajar banyak dari senior yang menurutku—sangat keren. Sebut saja, Mas Ferdi, Mas, Reza, Mbak Yus, dan masih banyak lagi. Aku berniat membuatkan tamu itu minuman. Tiba-tiba datang dari balik pintu dapur, Mas Ferdi. Dia datang dengan jas yang sangat tebal. Maklum, di sini: Jepang, lagi turun salju.
“Itu ada tamu ya, Rob? Aku kok kayak kenal ya?”
“Dia adiknya Mas Reza. Dia bilang sih gitu Mas.” Sambil mengaduk teh. “Aku ke depan dulu ya Mas.”
Aku berjalan memperlambat langkah. Aku terbayang akan itu. Senyum, matanya, langkahnya, dan suaranya. Namanya Yossi, adiknya Mas Reza. Astaga! Aku kenal dia. Yossi anak pesantren. Tapi, dia sedikit berubah. Dia sudah berani berbicara denganku. Maksudku dengan lawan jenis.
“Iya Mas. Yossi udah di lobi kantornya Mas. Baru ada dua orang deh kayaknya. Masih sepi. Kenapa Yossi nggak di suruh ke rumah Mas aja?” Hening beberapa saat. “Yaudah kalau gitu. Jangan lama-lama ya Mas.” Tatapnya langsung menangkapku yang berdiri di samping pintu masuk.
“Ah.. Im sorry. So, you can speak Indonesian?” Aku sedikit gugup dengan pandangannya.
“Yes, Why?” Senyumnya mengembang. “You also, right? So, mari kita berbahasa Indonesia saja.” Senyumnya mengembang. Lagi.
“Aku membuatkanmu minum di dalam. Jika tidak keberatan, kamu bisa masuk ke dalam. Di sana juga ada Mas Ferdi.” Jelasku.
“Oh.. Iya terimakasih ya. Maaf merepotkan”
“Sebelah sini..” Aku mempersilahkan.
Hari ini aku ditugaskan Mas Reza ke kediamannya Mr Hiroshi, owner Mirai Ocha yang lagi booming di kalangan pencinta teh di Jepang. Mas Reza sedang bercengkara dengan adiknya ketika aku hendak pamit berangkat menjalankan tugas. Berhubung hari ini tidak ada jadwal kuliah, aku hendak langsung menuju TKP. “Duduk dulu sebentar, Rob. Aku ingin memperkenalkanmu pada adikku.” Ucapnya sambil menebar senyum. Memang mas Reza ini sangat baik dan “amis budi”. Aku duduk tepat berhadapan dengan Mas Reza dan Yossi.
“Ini Yossi, adik bungsu Mas Reza. Dia sekarang kuliah di Tokyo University. Kalau tidak salah, Robi juga dulu pernah pesantren kan?”
“Iya Mas. Saya dulu pernah di Gontor.”
“Wah.. Jangan-jangan kalian sebenarnya sudah saling kenal.” Tatapnya mengintrogasi.
“Aku seperti kenal sih Mas. Kalau tidak salah, dulu pun ada murid bernama Robi yang daftar jadi jurnalis di sekolah.” Jelas Yossi.
“Dulu pun kalau tidak salah, Yossi yang menang lomba MTQ se-Jawa Timur kan ya?” Aku memastikan.
“Astaga.. Ternyata kita sudah lama saling kenal. Tapi Yossi agak pangling.” Senyumnya mengembang.
***
Aku tak menyangka pertemuan ini akan terjadi. Dulu aku sempat ingin berkenalan dengan Yossi. Banyak teman-temanku yang mengagumi Yossi. Bagaimana tidak? Yossi pintar mengaji, cantik. Jujur, motivasiku menjadi seorang jurnalis adalah agar suatu saat aku bisa mewawancarai Yossi. Namun keinginanku tak pernah menjadi nyata. Yossi pindah sekolah karena orang tuanya ada proyek di luar negeri.
Aku berjalan mengikuti jalur yang biasa aku lalui menuju kampus. Jepang seolah tak ada siang untuk musim dingin seperti ini. Sepatuku memutih. Tanganku terbalut sarung tangan tebal pemberian ibuku. Lagu Maboroshi memenuhi pendengaranku. Aku berjalan dengan tas laptop di pelukan. Jalanan masih sepi ketika itu. Aktivitas tak terlalu banyak dilakukan.
Aku mendapat pesan dari Mas Reza untuk menjemput Yossi di kampusnya. Katanya ia lupa jalan menuju kantor. “With pleasure Mr Reza.” Jawabku mengakhiri perbincanganku dengannya. Anak-anak seumuran Yossi banyak berhamburan memenuhi pintu gerbang. Aku melihat Yossi sedang berdiri sendirian di kafe di samping kampusnya. Senyumnya yang khas menyambut kedatanganku. Aku diajaknya duduk di sana untuk sekedar menunggu waktu shalat Dzuhur. Aku melihat bulu matanya yang lentik. Sama seperti terakhir kali aku bertemu dengannya di pesantren dulu.
“Jadi kamu ini benar-benar Robi yang jurnalis itu ya?” Suaranya memecah keheningan.
“Ah.. Iya. Kamu kenal saya?”
“Kenal. Kamu kan banyak menulis untuk media online kan? Aku suka membaca cerita darimu. Aku ingat tentang ‘Aisah dan sebuah buku diary’.” Sambil menatap layar ponselnnya. “Ini.” Layarnya menunjukkan situs web.
“Ternyata kamu adalah pemilik akun bernama Fitri? Aku baru tahu. Jadi kamu penggemar rahasiaku itu?”
“Bisa dibilang begitu.” Senyumnya masih terus mengembang.
Setelah beberapa hari ini, aku semakin akrab dengan Yossi. Bahkan Mas Reza tak jarang menyuruh Yossi menemaniku meliput berita. Terutama ketika kegiatannya dilakukan di sekitar kampusnya. “Jadi, kenpa sekarang kamu berubah? Maksudku, kenapa kamu jadi—mudah akrab?” Ucapku di suatu senja. “Aku mendapatkan keberanian itu setelah membaca motivasi-motivasi yang kau tuliskan di website milikmu.” Langkahku sejenak terhenti. Aku tak menyangka bahwa ia benar-benar membaca detail postingan di web pribadiku.
***
Bersambung

Kamis, 25 Februari 2016

Nikah atau Putus


“Aku tak mungkin membiarkan semua ini terus berlarut.”
Oh iya.. Namaku Siti Fatima. Aku biasa memanggilku Ima. Aku sedang berkuliah di UIN Malang. Tempat yang turun-temurun bagi keluargaku. Saat itu aku sedang menunggu waktu untuk berkonsultasi dengan dosenku. Aku mondar-mandir masih dengan setumpukkan kertas-kertas yang semakin akrab menemaniku. Di ujung teras tempatku sedang berdiri, ada seorang pemuda yang tampak kebingungan. Hingga akhirnya ia sampai kehadapanku. “Maaf Mbak, gedung D Fakultas Adab di mana ya?” Aku kemudian menunjuk arah gedung yang ia maksud tanpa mengatakan apapun lalu pergi.
Aku benar-benar tak menyangka akan dihampiri seorang pemuda hari ini. Aku sempat begitu gugup karena bertemu dengannya, bagiku tidaklah mudah untuk mendengar suaranya yang—indah. Aku menyingkirkan beberapa motor yang menghalangi kendaraanku. Tiba-tiba dari belakangku muncul pemuda tadi yang membantuku memindahkan kendaraan yang lain. “Terimakasih. Nama kamu siapa?” Ulur tangannya mengajak bersalaman. Aku hanya tersenyum sambil merasakan detakkan jantungku yang membuatku gemetaran. Aku tersenyum ketakutan sambil melajukan motorku. “Ima..”
Malam ini terasa lebih panjang dari malam-malam yang lain. Aku berniat membuka jendela untuk mengundang angin malam. Kamarku yang berukuran 2x3 ini terasa begitu pengap. Tapi, aku kemudian melihat warna kelabu yang kemudian membawaku ke dunia itu. Warnanya serba putih. Daun putih, tanah putih, gunung putih, semuanya putih. Aku kira, ini adalah syurga. Semua terasa sunyi. Tak ada getaran, apalagi gelombang. Hingga datang dari ujung pelupuk mataku seseorang yang siang ini aku temui. “Nama aku Rizal.” Aku mengedipkan mata, lalu menguceknya dengan kedua tanganku. Mentari sudah melewati celah tirai orange-ku.
Aku sudah siap untuk hari ini. Mengerjakan revisi tugas-tugas kuliahku. Aku membuka gerbang dan.. hari ini membuatku bertemu dengan pria itu lagi. “Hai, namaku Rizal. Kemarin aku belum sempat memperkenalkan diri.” Tahu dari mana dia alamat rumahku? “Aku kebetulan tinggal di ujung komplek ini.” Dia turun dari kendaraannya. “Mau ke kampus kan? Bareng aja yuk?” Aku berpikir keras akan ajakannya. Berbicara dengannya saja membuat aku tak karuan. Apalagi duduk bersebelahan dengannya? “Kamu bisa menyimpan tas mu diantara kita. Jadi kita takkan bersentuhan.” Dia menjawab kegelisahanku yang belum aku ungkapkan.
Aku mulai berani berbicara dengannya. Bahkan aku sudah berani tersenyum tanpa ketakutan lagi. Aku diajak ke sebuah taman yang baru saja di bangun di sekitar komplek kami. Kami menghabiskan waktu saling bercerita. Aku pun menceritakan tentang mimpiku semalam. “Sebenarnya aku tahu bahwa namamu itu Rizal. Semalam kau datang ke mimpiku.” Dia tersenyum lalu ikut pula menceritakan mimpinya. Kami semakin akrab.
Aku mulai bercerita tentang Rizal, kepada temanku, Sholiha. Sejak kami memutuskan untuk—berpacaran—kami berkomitmen untuk saling menjaga. Sholiha begitu tercengang. Matanya membulat membuatku takut. “Tenang. Aku tak berbuat yang macam-macam kok berpacaran dengannya. Dia pun lelaki yang baik dan sholeh.” Aku menjelaskan. “Setan lebih pintar dari kita. Ingat itu. Aku tak ingin kau terjerumus pada kenikmatan sesaat.” Matanya memancarkan kegelisahan. Sama persis ketika pertama kali aku merasakan perasaan yang aku anggap cinta.
Aku semakin yakin dengan jalan yang aku pilih. Rizal selalu mengingatkanku untuk shalat. Dia pasti akan menjadi imam yang baik. Aku tinggal menunggu waktu dia siap menjadikanku makmumnya. Sholiha bilang, aku harus cepat menikah dengannya, atau putuskan dia. Begitu katanya pagi ini. Pesan pembuka yang membuatku sedih sekaligus takut.
Aku merenungkan perkataan Sholiha hari itu. Dia benar, aku seharusnya tidak berpacaran. Bahkan hadist yang ia tunjukkan padaku itu sangat jelas. Tidak ada yang namnya pacaran. Aku berjalan sendirian. Taman ini masih ramai. Aku sengaja mengajak Rizal bertemu sore ini. Wajahnya begitu bahagia ketika bertemu denganku. Tanpa basa-basi, aku langsung mengungkapkan apa niatku menemuinya. Wajahnya langsung berubah 180 derajat. Senyumnya berubah jadi raut kesedihan. “Aku belum cukup umur untuk mempersuntingmu. Aku pun belum punya banyak uang untuk membiayai kehidupan kita. Katanya menjelaskan. “Kalau begitu, putuskan saja hubungan ini. Kita sama-sama tahu bahwa pacaran tak ada dalam aturan agama kita.” Kataku tegas.

Rabu, 24 Februari 2016

Bagian Hati yang Hilang Part 2

“Semua terjadi begitu saja. Masih terasa berat langkahku meninggalkanmu dalam keramaian yang sebenarnya adalah kerumunan keheningan. Aku membiarkan semua terjadi sama seperti yang Tuhan inginkan. Aku meyakini bahwa semua akan baik-baik saja, sekalipun kita harus berpisah. Tangis yang Kau beri meyakinkanku bahwa cintaku hanyalah untuk-Mu”
***
Dinding yang ramai itu akan segera kesepian. Aku sudah mempersiapkan keberangkatanku ke Australia untuk melanjutkan studiku di Nanyang University. Aku akan merindukan ayah dan ibu tentunya, keluargaku, teman-teman di teater, tak terkecuali si pemilik senyum anggun yang hingga kini masih ada dalam pikiranku. Aku duduk tepat di depan laptop yang selama ini menemaniku berkomunikasi dengan Annisa. Saat itu pun aku mengiriminya pesan dan tak lupa aku kabarkan bahwa esok aku akan pergi ke Australi.
Jam dinding berdetik seolah menginginkan perjumpaanku dengan Annisa malam itu. Aku sempat beberapa kali melihat senyum Annisa di depan wajahku. “Astagfirullah.” Aku mengusap wajahku dan kemudian pergi mengistirahatkan diri. Malam ini sudah tak “sedingin” malam kemarin. Ibu sudah memberi pesan yang begitu berharga tentang sebuah penantian mulia. Suara batinku sudah rela--melepaskannya.
Ibu dan ayah mengantarkanku ke Bandara Husein. Suasana pagi itu sungguh hangat dan menentramkan. Mentari hangat menyapa wajahku. Aku mendengar panggilan rindu dari teman-temanku, pepohonan di halaman belakang, juga senyum Annisa yang masih membayangi. Aku sempat ragu dengan pilihanku. Bagaimana perasaanmu bila kau meninggalkan seseorang yang kau kasihi? Aku sungguh tak menampik akan keindahan yang tersirat di setiap hariku. Aku sungguh bersyukur karenanya. Termasuk dengan perpisahan yang semakin mendekatkanku kepada-Nya.
Assalammualaikum, Annisa? Aku tahu ini akan berat pada awalnya. Aku pun mengakuinya. Sangat sulit untuk tidak mengakui bahwa aku menyimpan rasa padamu. Aku sadar, aku belum siap untuk menikahimu. Aku mengikhlaskanmu jikalau kau ingin menikah dengan yang lain. Semua sudah diatur dan aku percaya itu. Semua akan indah pada waktunya. Jika penantianku akan berujung padamu, Tuhan pasti akan menjagamu untukku. Aku pergi sekarang Annisa. Wassalammualaikum.”
***
Aku sedang berdiskusi ringan terkait konsep penataan ulang tata letak saluran air di sekitar kampusku. Dea, Arsil, dan Rio sudah merancang semuanya dan memintaku memberi masukan. Aku melihatnya dengan seksama. Semua orang begitu serius menatapku awalnya. Hingga aku terkejut ketika Arsil mengoyak-oyak badanku. Aku baru saja membayangkan senyum manis Annisa.
Dua tahun sudah aku jalani kehidupanku di perantauan ini. Sidang kelulusanku akan segera dilaksanakan beberapa hari lagi. Aku sudah bersiap-siap dengan pakaian ter-rapih yang aku miliki. Aku berjalan dengan santai, pagi masih terlalu pagi namun aku dapat melihat penampakan alam yang begitu indah. Aku berdiri di dekat Marina Bay, menikmati udara yang masih sejuk.
Arsil, Dea, dan Rio sudah berdiri di depan ruangan di mana sidangku akan dilaksanakan. “Ayo.. Kamu pasti bisa.” Ucap salah satunya sambil menepuk pundakku. Aku berjalan optimis memasuki ruangan itu. Damai. Berbeda ketika aku keluar dari Ruangan itu. Semua terasa hampa dan tak bernyawa. Aku berjalan gontai bagai juga tak bernyawa. Ketiga sahabatku sudah menungguku dengan setia. Wajah mereka terlihat khawatir dengan keadaanku saat itu. Aku menahannya hingga beberapa saat kemudian—aku tersenyum bahagia karena aku lulus.
Para turis sedang mengabadikan momen di dekat Merlion. Aku pun teringat ketika pertama kali aku mendatangi tempat ini pun melakukan hal yang sama. Aku duduk lagi di tepi Marina. Merasakan lagi angin senja dan juga lanskap yang terpampang indah ketika itu. Hening dan bahagia, begitulah alam dan aku menyatu saat itu. Hingga suara itu terdengar jelas dari belakangnku—Dea dengan segelintir balon gas digenggamannya.
“Khoirul..”
“Dea.. Ada apa datang kemari?”
“Aku ingin memberikan ini kepadamu, Rul.” Wajahnya menunduk. “Aku ingin terus bersamamu. Aku sudah menyimpan ini cukup lama. Aku harap kau mengerti.” Ulur tangannya memberikanku sekumpulan balon itu.
Aku tercengang hebat. Dea.. Balon itu terbang sebelum aku menggapainya. “Maaf.. Tapi aku tidak bisa.” Aku bergeming. Suasana di sekelilingku kemudian hening. Sama heningnya ketika aku membiarkan Annisa dalam penantian—awalnya.
Dea adalah sahabatku sejak aku studi di sini. Aku, Dea, Arsil, dan Rio selalu bersama-sama sepanjang tahun. Aku tak menyangka bahwa Dea menyimpan rasa itu padaku. “Dea sudah seperti adikku sendiri.” Bahkan ketika ia ada di hadapanku dan mengutarakan perasaannya itu, aku masih terbayang pada Annisa. Annisa masih menantiku. Tuhan pun masih menjaga perasaanku untuknya.
***
Keberangkatanku sudah tinggal menghitung jam. Aku sudah berpamitan dengan sahabat-sahabatku. Suara mereka sudah aku simpan dalam rekaman hanphone-ku. Mereka sangat mendukung kepulanganku ke Indonesia, tak terkecuali Dea. Senyum Dea pagi ini begitu tulus tak seperti kemarin. Aku sempat merasa bersalah padanya karena sudah mematahkan perasaannya. Namun, aku percaya, Dea, akan menemukan yang lebih baik dan ia butuhkan.
“Assalammualaikum, Annisa? Waktu berlalu. Tapi perasaanku tidak. Aku di sini sudah mempersiapkan diri untuk bertemu denganmu. Sudah banyak pula waktu kulalui. Tapi keyakinanku masih padamu. Aku bertemu denganmu lewat mimpi. Mungkinkah itu jawaban dari setiap doaku? Annisa, bersediakah kau untuk menjadi penyempurna agamaku?”
Aku sudah menyampaikan niatku untuk menikahi Annisa pada kedua orangtuaku. Mereka setuju. Esok hari aku akan menemui Annisa di rumahnya. Rasanya, sakit yang dulu kurasakan akibat perpisahan itu tak ada artinya dengan kebahagiaan yang aku rasakan. Aku mengerti, mengapa Tuhan memisahkan kami. Tuhan ingin memberikan yang terbaik dan tepat pada waktunya. Ibu menyambutku dengan pelukan hangat. Begitu pula ayah yang sudah berdiri di belakang ibu. Aku kembali ke rumah.
Detik jam membangunkanku kembali. Selalu pada sepertiga malam yang mulia. Sebentar lagi akan ada sosok wanita yang akan menemaiku. Annisa. Wajahnya masih terbayang dengan jelas sejak terakhir pertemuanku dengannya. Pagi harinya, aku dan orangtuaku sudah bersiap untuk mengunjungi rumah Annisa. Tak lupa aku bawa selembar kertas yang baru terisi tiga paragraf itu untuk ia lengkapi kisahnya. Kami pergi dengan hati damai, sedamai hari yang Tuhan sebut sebagai hari kemenangan.
“Assalammualaikum, Annisa?”
“Waalaikumsalam.. Khoirul?” Wajahnya berubah warna. Aku masih tak kuasa menatapnya dengan tenang.
“Nis, maukah kau melengkapi kisah wanita yang sedang patah hati ini?” Aku memberikan kertas yang kugenggam sedari tadi.
“Akhirnya wanita itu mengerti. Kehilangan yang ia rasakan bukanlah semata-mata kesedihan yang benar. Melainkan sebuah kebahagiaan yang tertunda.” Ucapnya sambil melirikku.

Selasa, 23 Februari 2016

Bagian Hati yang Hilang

Dia adalah cinta pertamaku yang belum lenyap. Kami memutuskan untuk berpisah sudah sejak 2 tahun yang lalu. “Kita harus memperbaiki kualitas diri kita.” Begitu jelasnya dengan nada serius. Nyawa lampu disekelilingku seolah akan keluar dari wadahnya. Ngeblur.
Aku berjalan melewati tempat biasa orang-orang menghabiskan waktu sendirian. Aku pun sedang sendiri kala itu. Hanya sedang bercengkrama dengan angin lembut lalu merangkai sebuah cerita seorang wanita yang sedang patah hati. Ketika jantungku berdebar semakin kencang, selembar kertas yang baru saja kuberi nyawa itu terbang dibawa oleh si lembut yang berubah menjadi ganas.
Keesokan harinya aku sedang duduk di tempat yang sama seperti kemarin. Cuaca hari ini begitu cerah. Semut-semut kutangkap basah sedang memakan sisa roti yang belum kuhabiskan. Aku melanjutkan kisah kemarin yang masih belum selesai.
“Assalammualaikum, Annisa?” Suara Ikhwan mengagetkanku.
“Oh. Ikhwan. Waalaikumsalam. Kamu mengagetkan saja.”
“Kamu lagi sibuk, Nis?
“Aku lagi nulis cerita. Nggak terlalu sibuk kok. Ada apa ya?”
“Itu.” Menunjuk seorang pria yang tidak aku kenal. “Dia ingin berkenalan denganmu. Ini tulisanmu kan?” Menunjukkan selembar kertas yang kemarin hilang.
“Oh iya. Ini kertasku yang kemarin terbawa angin. Memangnya dia siapa, Ikhwan?
Tanpa menjawab pertanyaankku, Ikhwan berlari membawa pria itu kehadapanku.
“Namanya Khoirul. Dia kuliah di jurusan Teknik seangkatan sama kita.” Jelas Ikhwan.
Ikhwan meninggalkan kami bersama angin yang sama lembutnya seperti kemarin sore.
Aku mulai berkenalan dengan Khoirul. Khoirul menemuiku sore itu lantaran ia ingin mengajakku bergabung dalam grup teaternya. Dia menyatakan ketertarikannya dengan cerita yang aku tuangkan di selembar kertas yang kini sudah mulai luntur tulisannya. Perbincangan kami berakhir ketika rintik hujan mulai menyapa kami di sore yang masih terpancar cahaya mentari. Kami berpisah dengan diakhiri saling bertukar nomor handphone.
Aku membantu khoirul dalam editing skenario. Ini merupakan proyek pertama Khoirul yang berjudul “Sepotong Hati Milik Fatimah”. Aku mulai akrab pula dengan teman-teman Khoirul yang notabene islamik. Tanpa sadar, hari ke hari, penampilanku pun semakin menyerupai mereka. Mungkin ini pun karena karakterku yang cenderung mudah memodeling keadaan sekitar.
Akhir-akhir ini aku memergoki diriku sedang tersenyum sendiri. Rautku tak jarang berubah menjadi begitu bahagia. Laksana insan yang sedang dilanda asmara. Jika kuingat pertemuan hari ini, aku tak bisa tidur dan terus memikirkannya. Khoirul. Lelaki itu hadir begitu saja dan kini namanya mulai kusebut dalam doa di sepertiga malam. Khoirul. Tatapannya begitu santun setiap memandangku. Aku rasa Tuhan sedang membiarkan aku jatuh cinta.
***
Hari ini aku sedang tidak melakukan kegiatanku yang rutin. Keadaan membuatku tehimpit antara harus menyerah atau menemukan aroma baru dalam kisah wanita yang sedang patah hati. Langkahku berjalan tidak sesuai keinginan hatiku. Angin berhembus cukup kencang. Dedaunan yang menguning itu telah menutupi jalanan berbatu lembut.
Aku duduk tepat di depan sebuah pemandangan manusia yang sedang berbahagia sendiri-sendiri. Pancarannya seolah mengajakku untuk berbahagia pula di perasaan yang sedang tidak baik. Ketika angin semakin ganas, selembar kertas menampar pipiku. Tidak sakit sama sekali. Kuambil dan kubaca untaian kata 2 paragraf yang tanggung itu. Aku pandangi keadaan di sekelilingku, berharap seseorang menampakan wajah sedihnya karena selembar kertasnya telah terbawa angin. Hingga awan mendung berkerumun, tak satu pun orang menghampiriku.
Kubaca berulang-ulang kisah yang belum tamat itu. Tak ada nama penulis yang tercantum di selembar kertas itu. Kuputuskan untuk bertemu dengan teman-temanku di kampus. Barang kemungkinan seseorang tahu siapa pemilik tulisan yang belum tamat ini. Aku menyukai alur dan aroma yang tercium darinya. Aku memutuskan untuk mengundangnya bergabung dengan grup teaterku.
Ikhwan mengatakan bahwa ini adalah milik Annisa. Ia adalah siswi sastra Indonesia yang terkenal gemar menuliskan kata-kata yang menyayat. Aku mengetahui hal itu setelah beberapa kali gagal mengetahui si pemilik cerita yang belum tamat ini. Ikhwan mengajakku pergi ke taman di belakang rektorat, tempat di mana Annisa selalu menyendiri dan menghadirkan inspirasi untuk ceritanya.
Mataku sempat perih. Bukan karena sedih atau kelilipan. Aku tak berkedip ketika pandanganku menemukan sosok Annisa yang begitu anggun sedang ditemani semilir angin yang menyejukkan. Aku sempat ragu untuk berkenalan dengannya. Tapi Ikhwan tetap memaksaku dan membawaku kehadapan wanita yang anggun itu. Kami mulai bertukar kata dan tak jarang tersenyum sendiri-sendiri. Aku tak kuasa menatapnya dari jarak setengah lencang kanan ini. Mulutku terlalu kaku untuk berpatah kata terlalu banyak.
Alam mendengar isi hatiku. Rintik mulai turun ketika cahaya mentari masih bersinar sore itu. Aku sudah sempat bertukar nomor handphone dengannya. Bahkan ia pun sudah paham maksudku menemuinya sore itu. Kertas yang belum tamat ceritanya itu mulai terisi satu paragraf hari ini. Tak kusangka tamparan lembut kertas itu membawaku menemui tuannya yang mampu membuatku tersenyum sekaligus membantuku dalam krisis cerita wanita yang sedang patah hati.
Hari berganti hari. Kedekatanku dengan Annisa pun semakin menjadi-jadi. Tetapi tetap saja, jarak antara kami tak pernah melebihi satu lencang kanan, begitupun lencang depan. Aku masih tak kuasa menatapnya dengan seluruh perasaanku yang terpancar di mataku. Sekali tatapku menyergap matanya yang berbinar itu, seketika itu pula aku menjadi salah tingkah. Lagi ketika kuingat penampakannya semakin hari serupa bidadari surga. Dan kurasa, Tuhan sedang mengizinkanku jatu cinta pada makhluknya yang membuatku menyisipkan namanya dalam doa di sepertiga malamku.
***
Lambaian dedaunan itu seolah mengisyaratkan kegelisahan. Sudah beberapa hari ini aku semakin dekat dengan Khoirul. Meskipun pastilah kedekatan kami tak pernah lebih dekat dari pada satu lencang kanan. Ketika itu aku pun merasakan kegelisahan dalam hatiku. Aku tak pernah merasakan perasaan yang begitu hebat. Mampu membuatku berharap pada Tuhan atas seseorang yang belum lama ini hadir dalam hidupku. Khoirul sedang sibuk dengan panggung yang akan digunakan untuk pementasan esok. Aku bergabung dengan teman-teman yang lain membantu mendekorasi panggung yang kala itu sudah dipasang tirai besar berwarna merah marun.
Khoirul meminta para panitia untuk menginap di kampus malam ini. Semua orang tampak kelelahan sekali. Satu per satu di antara kami mulai berguguran ke tempat tidur. Tersisa hanya aku dan Khoirul. Mulutnya belum berkata apapun sejak kami hanya berdua di sana. Aku berjarak sekitar 10 meter ketika Khoirul sedang menatapku. Tatapannya begitu membuatku terbayang-bayang akan rupanya yang menawan. Belum lagi usahanya yang keras memimpin kami semua demi kesuksesan acara. Aku menunduk tak bergeming pula.

Acara hari ini berjalan dengan lancar. “Alhamdulillah. Terimakasih atas kerja keras kalian selama ini. Terimakasih pula kepada Annisa, atas pencerahannya dengan cerita wanita yang patah hati itu. Kuharap kau sedang tidak patah hati.” Kalimat Khoirul ketika evaluasi. Acara hari ini memang berjalan lancar. Belum lagi banggaku ketika melihat beberapa audiens yang menitikkan air mata. Aku begitu mendalami cerita itu. Namun, aku tidak sedang patah hati.
Untuk pertama kalinya, Khoirul, mengajakku bertemu di sebuah tempat yang begitu ramai. Selama aku mengenalnya, Khoirul selalu menyukai kesunyian. Bahkan ia pun memintaku mengoreksi skenarionya dengan keadaan tenang dan sepi. Jam menunjukkan pukul 20:00. Aku bersiap-siap seolah ini adalah hari pertamaku bertemu sang pangeran di cerita dongeng. Aku berdiri di pedestrian yang cukup ramai. Tiba-tiba keadaan terlukis seolah hanya kesunyian ketika pijakan kakinya tepat berada di hadapanku. Kalimatnya terlontar dengan lancar. Suara menghilang tak menyentuh pendengaranku sama sekali ketika itu.
***
Tulisan itu masih tiga paragraf. Aku belum sempat bertemu Annisa untuk memintanya menuliskan kisah yang membuatku bertemu dengannya. Aku sedang mempersiapkan panggung untuk pementasan esok. Teman-teman berjalan bersamaan diiringi senyum khas milik Annisa yang masih sama seperti pertama aku mendapatinya. Manis dan Anggun.
Aku meminta semua panitia untuk menginap di kampus malam ini, mengingat masih ada yang harus dipersiapkan esok pagi. Tirai merah marun sudah terpasang. Pekerjaan kami hampir selesai. Perlahan teman-teman mulai berguguran. Tersisa hanya aku dan Annisa di panggung yang sepi itu. Annisa sedang menghayati rangkaian bunganya ketika mataku tertangkap memperhatikannya. Aku sungguh malu. Aku tundukkan pandanganku setunduk-tunduknya.
Acara hari ini berjalan dengan lancar. Semua orang begitu bahagia dengan pertunjukan drama itu. Bahkan diantaranya begitu menghayati hingga menangis karenanya. Aku begitu penasaran mengapa Annisa dapat menciptakan alur yang begitu menyayat hati. Apakah ia sedang patah hati?
Setelah tulisan itu masih menempel pada papan sterofom di kamarku, aku mulai menemukan jawaban atas kegelisahanku pada Annisa. Hari ini aku berencana bertemu dengannya di sebuah tempat yang ramai di daerah Dago. Aku menegaskan diri untuk serius pada Annisa. Aku berjalan melewati keramaian yang tak begitu aku sukai. Annisa sudah berdiri di sana. Pakaiannya masih telihat anggun seperti biasa.
“Annisa, maaf membuatmu menunggu dan keluar malam hari seperti ini.”
“Iya. Ada apa Khoirul mengajak bertemu di ‘tempat’ seperti ini?”
“Nis..” Kemudian hening menyergap kami. “Sebaiknya kita tak menyimpan baik perasaan yang Tuhan anugerahkan ini.”
“Apa maksudmu?” Matamu berbinar.
“Tak perlu ada hubungan apapun antar kita. Kita harus belajar saling mengikhlaskan dan menerima ketentuan-Nya.” Hening semakin menjadi.

Minggu, 21 Februari 2016

Memori: Kimi wa Aitai Desu

“Pagi sudah tak berkabut. Bagaimana dengan hatimu?”
Sudah lama. Kimi wa aitai desu (ingin bertemu denganmu). Hari ini bukan hari libur. Aku memutuskan untuk menemuimu. Sosok yang selama ini hanya sebuah khayalan. Aku bahkan tak merencanakan kepergianku menemuimu. Jemariku refleks mengetik sebuah pesan dan.. aku berangkat menemuimu.
Jalanan cukup ramai, padahal bukan hari libur. Hari seperti biasa, bukan musim hujan dan sangat terik rasanya. Aku duduk berhimpitan dengan penumpang yang lain dalan sebuah angkutan umum. Kau begitu mewanti-wanti agar aku berhati-hati sepanjang perjalanan. Mungkin kau sedang memperhatikan huruf demi huruf di layar ponselmu. “Aku otw Surabaya.” Begitu ringan aku menuliskannya dan terkirim dengan sekali klik.
Dekat atau jauh perjalananku berlangsung, tasku selalu terisi penuh dan tak ada yang terlewat kubawa kemanapun aku pergi, terutama botol minumku yang berwarna orange. Dengan ditemani sebuah alunan musik khas bergenre japanese, aku mulai sedikit terlelap menikmati perjalanan di kereta itu. Ketika mimpi hampir saja bertemu denganku, handphone-ku bergetar lagi. Ya.. Kau mengirimiku pesan lagi. “Inget, turunnya di Stasiun Pasar Turi ya. Jangan bablas.” Katanya terus mengingatkanku. “Aku dari Bandung ke Malang aja nggak pernah nyasar kok.” Jawabku tak nyambung.
Seketika aku teringat padanya, sosok yang tak benar-benar aku temui, namun rasanya jelas-jelas dapat membuat jantungku berdegup tak karuan. Setiap pesan yang ia kirimkan padaku, secara mantap tertuju pada hatiku yang kemudian orang biasa menyebutnya: “Hati yang sedang berbunga-bunga”, atau “Rona wajah yang berubah menjadi merah muda.” Ya.. Perlahan namun pasti, perasaanku mendadak bahagia setiap kubangun membuka mata dan melihat pesannya meyangkut dilayar ponselku. Juga pesan terakhir sebelum tidur yang kubaca pastilah darinya. Entah mengapa, langkahku tak ragu sedikitpun untuk bertemu dengannya.
***
Aku harus berjalan sampai lampu merah, baru menemukan bus yang dimaksudkan pedagang telur asin di depan stasiun kereta. Aku berjalan ditemani para masyarakat yang sedang asik jalan-jalan di tengah terik ukuran Surabaya pukul 1 siang. Kelenjar keringatku sedang panen hasil produksi. Tisu sudah berlembar-lembar aku tarik. Dia masih terus menanyakan keberadaanku. Terus tak henti-henti mengontrolnya. Sebentar lagi aku akan bertemu sosok itu, sosok yang dapat membuatku tersenyum sendiri tanpa pernah bertemu dengannya. Ketika kuterduduk di bangku bus yang tak begitu nyaman, aku melihat ke arah luar hujan turun begitu deras. Namun suhu di sana tak sama sekali sejuk. Aku masih berkomunikasi dengannya. Hingga kondektur meminta uang tarifnya. “Turun di UIN Pak,” ucapku sambil mengulurkan tangan. “UIN?” Wajahnya keheranan. Aku seketika itu ingat, IAIN masih sangat populer di kota pahlawan ini. “IAIN” jawabku pasti.
“Masjid hijau itu adalah masjid IAIN. Kamu berjalan saja sampai sana, kau akan sampai tempat di depan kampusnya.” Begitu kata pak kondektur. Bahkan aku harus meloncat ketika hendak turun, karena jalan di sana begitu padat dan tak sempat bagi si supir untuk sedikit meminggirkan busnya. Punggungku pegal bukan main. Mungkin kakiku pun sudah bengkak entah seperti apa. Ketika aku melihat langkahku, sama sekali tak ada bekas hujan setetespun. Aku lalu memasukkan kembali payung yang sudah kupegang sejak pertama kali melihat hujan deras tadi.
Aku berjalan di trotoar seluas 1 meter. Langkah aku percepat ketika melihat langit mulai mengundang hujan. Dia berkata bahwa dirinya sedang menuju ke tempat di mana aku diturunkan. Aku bahkan sudah melewati setengah perjalanan menuju masjid yang katanya masjid IAIN itu. Aku masih belum melihat pria kecil dengan baju kotak-kotak. Aku sedikit takut, bisa saja ia menjebakku kemudian menjualku seperti tren yang sedang berkembang. Tapi semua itu terjawab ketika aku menemuinya. Pria kecil dengan ransel hitam berjalan tepat ke arahku. Entah mengapa senyumku begitu lebar padanya. Aku mungkin juga terlalu bahagia kala itu. Ya.. Bahagia bercampur malu. Bahkan aku tak sampai mampu berjabat tangan dengan lelaki itu. “Farid?” Aku memastikan. “Iya. Akhirnya ketemu juga.” Jawabnya malu-malu. Perbincangan kami tak banyak, kami langsung menuju masjid di IAIN dan aku melaksanakan shalat ashar yang hampir lewat.
Hujan turun lebat sekali. Airnya dengan pasti meresap pada sendal yang baru aku beli beberapa bulan lalu. Aku memandanginya prihatin dari jarak 5 meter. Ketika aku selesai shalat, aku melihat Farid sudah duduk bersama seorang gadis. Aku sedikit cemburu tapi, apa hakku? Aku menghampiri mereka. Dengan senyum yang semakin aku kenal, Farid menyambutku. Begitupun dengan wanita di sampingnya. Entah bagaimana caranya aku bisa duduk memisahkan mereka. Aku duduk menghadap hujan yang sedang mendinginkan suasana.
“Berapa lama akan tinggak di sini?” Sapa Ika setelah kami berkenalan.
“Hanya sehari saja, besok aku pulang karena senin ada praktikum.”
“Sering-seringlah main ke mari. Oh iya, Farid sangat cemas sekali ketika tahu kamu salah naik bus.” Ucapnya bernada meledek
Aku hanya tertawa kecil yang disusul dengan raut wajah Farid yang kesal pada Ika.
***
Aku sempat mengunjungi ikon kota pahlawan. Juga sebuah taman yang aku lupa namanya. Kami semakin dekat dan tak malu saling meledek atau membuat rona wajah kami memerah. Untuk pertama kalinya aku berjalan berdua dengan seseorang yang bukan kekasihku namun serasa seperti kekasih. Cuaca kala itu begitu mendukung, cerah berawan. Kami saling bercerita tentang kehidupan kami, kecuali tentang pacar.
Farid berjanji akan mengantarkanku. Dia sudah menungguku di depan gang rumah temannya yang aku menginap di sana. Malam itu cukup dingin, namun hatiku begitu hangat. Ya.. Itulah yang aku rasakan. Aku sangat ingin berlama-lama dengannya pada malam itu, perjalanan menuju stasiun. Aku tak menyangka rasanya akan seperti ini. Jika aku tidak mem-bonsai perasaanku, ini akan tumbuh terlalu tinggi. Tapi senyumku masih mengembang, masih merasakan sensasi kebahagian yang begitu memenuhi perasaanku. “Aku masih ingin bersamamu.” Suaranya memecah keadaan ramai jalanan malam itu. Aku bersandar di bahunya, aku pun merasakan hal yang sama.
Perasaanku jadi tak karuan. Bahagia bercampur sedih. Begitulah ketika detik-detik perpisahan sudah di depan mata. Ini perjumpaanku yang pertama dengannya. Aku pun belum saling mengungkapkan perasaan yang terpendam dalam itu. Aku hanya mengisyaratkan, juga membaca hal yang sama dari pancaran matanya yang sayu. Keadaan tak begitu ramai di tempat pemeriksaan tiket. Tak lama pula keretaku akan berangkat. Farid perlahan melepaskan tanganku. Haru bercampur bahagia begitu memenuhi perasaanku. Matanya pun berkaca-kaca. Kilaunya terpancar ketika lampu ruangan itu menangkapnya. Dengan berat kakiku mulai melangkah berjalan memeriksakan tiketku. Aku menoleh padanya untuk terakhir kalinya, pandanganku semakin buram.
 

Kartini Nurhasanah Template by Ipietoon Cute Blog Design