Kamis, 10 Maret 2016

Sebuah Upaya


Ini tentang upaya membangun sebuah kebiasaan. Menulis namanya. Aku rasa, terdengar mudah bila hanya untuk mengetik atau membuat manuskrip. Nyatanya, ide-ide itu tak jua muncul ketika telah lama menatapi layar netbook yang cahayanya sudah aku redupkan. Aku ingin menulis agar aku abadi di dalamnya. Lebih abadi dari sebuah luka yang telah lama terpendam dan tak bisa dilupakan. Bukan karena tak ada hal yang lebih penting dari sekedar melupakan kenangan pahit. Tapi waktu belum mengizinkan luka itu disapu oleh kebahagiaan.
Menulis bebas katanya. Begitu orang bijak mengatkan ketika kita sedang tidak punya ide untuk menulis. Hal tersebut sudah menjadi hal umum selain ampuhnya sebuah pengalaman pribadi.
Ini tentang sebuah kegalauan. Boleh kan seorang penulis galau? Tentu saja boleh. Apakah terlalu banyak ide di kepala ini? Atau kalimat indah dan motorik masih belum bertemu tepat? Aku masih saja sebuah kata yang tak ingin aku biarkan bersarang di dalamnya—bingung.
Kadang aku merasa, waktu sedang mempermainkanku. Perihal menulis ini sungguh sangat krusial. Karena terlampau krusial-lah semuanya serba menyeramkan. Takut-takut yang ditulis itu tidak seindah yang dibayangkan. Kan memang begitu. Yang terencana saja bisa berntakan. Ekspektasi kadang berbalik dengan realita.
Jadi, apa maksudnya tulisan ini? Tentulah perkara waktu. Ia adalah paten tidak bisa diulang. Hanya diratapi dan masihlah sebuah kenangan. Jika ini adalah waktumu untuk mengabadikan diri, maka lalukanlah. Sekalipun menuliskan sebuah kata itu sangat sulit. Seperti halnya saat aku menulis untaian yang entah apa. (*)

Selasa, 08 Maret 2016

Ketika Angin Jatuh Cinta

Aku terlahir ketika mentari pagi berpendar. Aku tinggal di sebuah padang rumput di kota Karuma. Setiap hari, aku berhembus menelusupi celah rerumputan yang berbaris rapih. Jika aku sedang berada di atas, aku dapat melihat lapangan hijau membentang. Lalu ia muncul dan membuatku jatuh cinta.
***
Hari ini aku berhembus bersama turunnya hujan. Aku sedikit terseok ketika hendak berjalan santai. Seperti kata penyair yang sedang mencariku. Ia mengagumiku yang berhembus santun. Matanya terpejam. Rambutnya basah. Namun, bibirnya membentuk sabit. Manis sekali.
Aku hanya berhembus sebagaimana alam menginginkanku pergi. Sejak aku lahir, aku selalu berputar-putar di sini—di tempat rumput-rumput menari. Di ujung padang lalu mengawinkan bunga timun suri. Mereka bahagia, tapi tak mengenaliku. Aku tak mengerti. Aku hanya bisa merasakan, namun tak bisa melihat diriku. Aku bahkan tak mengerti apa tujuanku berada di sini. Sempat terbesit dalam diriku untuk—berhenti berhembus.
Dia mulai muncul. Manusia menyebutnya pohon. Ya.. Pohon kecil yang baru lahir. Aku taksir tingginya sekitar 3 cm. Aku menyapanya seperti halnya aku menyapa barisan rerumputan. Aku melihatnya melengkung. Apa aku menyakitimu, wahai makhluk kecil?
Aku masih berhembus walau tak tahu arah dan tujuan. Aku menyapa mereka seperti biasa. Tak terkecuali makhluk yang diameternya sekitar 50 cm. Rambutnya berwarna klorofil. Setiap aku melintasinya, tubuhku semakin berisi. Apa ia memberiku makan? Ah! Dia masih kecil. Sendirian pula di tengah hamparan hijau. Tanpa ibu, apalagi ayah.
***
Aku mulai mendengar ada yang lain. Ini bukan bahasaku. Dia memanggilku dari alam terbuka.
Kau! Datanglah. Mengapa kau tak memelukku?
Mungkinkah?
Aku berlari mengikuti muasal suara asing. Bukan terseok. Mungkin lututku sudah beradu-adu. Aku melihat ia masih sendirian. Tapi, mungkinkah ia memanggilku?
“Hai. Apa kau bisa bicara?”
“Ya. Aku menemukan suaraku 3 hari yang lalu.”
“Lalu, apa kau tau siapa namaku?”
“Angin?”
“Dari mana kau tahu?”
“Kau yang selalu menemaniku. Bagaimana mungkin aku tak mengenalmu?”
“Umm. Lalu, kau itu mahluk apa? Kau tak memiliki bunga. Bagaimana anakmu lahir?”
“Oh... Aku kira, aku ini adalah pohon. Aku bertunas. Aku tak memerlukan bunga.”
“Baiklah... Ada apa kau memanggilku?”
“Aku ingin berbicara padamu. Ini rahasia alam.”
“Sungguh? Apa yang ia katakan?”
“Ia menyanjungmu karena kesantunanmu.”
Waktu berputar. Hubunganku dengannya semakin erat. Bahkan dalam gelap, aku masih menelusup di sekitar celah rantingnya. Aku lebih sering dekat dengannya. Sekalipun ia belum beranak.
Hari ini aku menjatuhkan sehelai daunnya. Apa aku menyakitinya? Dia bergeming saja ketika aku memeluknya.
***
Jadi, apa ini seperti kata penyair itu? Bahwa aku sedang jatuh cinta? Ah! Aku tak ingin jatuh cinta pada pohon, jika aku hanya menggugurkannya begitu saja. Kini, ia sudah mulai layu. Sudah lama hujan tak memberinya minum. Aku memperhatikannya dari jauh. Apa ia merindukanku? Atau membenciku?

Minggu, 06 Maret 2016

Ketika Pohon Itu Masih Bertahan

Aku berjalan melintasi pagar-pagar bambu milik tetangga. Semua bangunan masih utuh dan khas tanah Jawa, tepatnya Jawa Tengah. Tepat di depan rumahku adalah rumahnya Supri, teman kecilku dan juga anak dari bibiku. Rumahku tak berubah sejak terakhir kali aku berfoto bersamanya. Juga dengan sebatang pohon berbunga merah yang masih lekat di hadapannya. Pohon Caliandra. Begitu warga sekitar menyebutnya sebagai pohon yang tak berguna. Namun ibu selalu merawatnya hingga kini batangnya dapat setengah kupeluk.
Hujan sedang turun menemani perjalananku yang kelelahan karena jalan menuju rumahku menanjak. Aku merasakan nafasku ngik-ngik ala ibu-ibu berusia 60 tahun. Aku menatap pada pohon itu dengan seksama. Seperti biasanya aku merasakan seolah gugur daunnya menyambut kedatanganku. Setiap 1 tahun sekali aku akan pulang menemui ibu dan membawakannya manisan. Wanita itu sedang duduk dengan seikat daun singkong di tangannya yang mulai keriput. Sesekali tatapnya menoleh pada pohon itu dan kemudian berlalu menutup pintu. Tak lama kemudian pintu itu terbuka lagi dan kini tatapnya menangkapku lekat.
“Kau sudah pulang.” Nadanya tak jelas bertanya atau menyatakan.
Lalu ia menghampiri lagi pohon Caliandra itu seolah mengajaknya berbicara. Ucapan ibu pun berlalu seperti angin yang menerpaku yang mematung sedang menatap pada Caliandra.
“Bu, mengapa bunga Caliandra masih menguncup? Apakah lebah tak datang untuk membangunkan mereka?”
“Lebah sedang tidur panjang jika musim hujan seperti ini.”
“Bu, esok aku akan melakukan penelitian pada Caliandra. Terutama pada daunnya.”
Ibu tak menjawab dan langsung merangkulku masuk ke dalam.
Aku menatapi Caliandra dari balik jendela. Dia melambai-lambai diterpa angin di kesenjaan. Aku ingat perkataan ibu soal Caliandra yang menurut banyak orang hanyalah pohon yang tak berguna. Ibu bercerita padaku bahwa daunnya pernah menyembuhkan ternak yang sakit. Ketika itu ibu sedang kebingungan dengan ternak yang tiba-tiba menurun nafsu makannya. Ibu mengambil beberapa helai daun Caliandra dan memberikannya pada ternak-ternak. Esok harinya, ternak-ternak itu sudah kembali normal dan mau makan seperti biasa.
Ayam membangunkan kami di subuh hari. Dingin menyentuh kulitku dan membangunkan bulu tanganku. Kutengok Caliandra masih tertidur karena mentari belum menyentuhnya. Hingga cahaya mentari berpendar kearahnya dan daunnya mulai gagah berjejer rapi. Sepagi ini ibu sudah pergi ke gunung untuk memeriksa air yang belakangan ini macet. Di desa kami, sumber air bersih berasal dari gunung. Namun, beberapa waktu ini air tidak mengalir. Aku diamanahi ibu untuk memasak dan membereskan rumah. Pagi itu, aku ditemani bayang Caliandra yang sampai ke teras rumah.
***
Setahun kemudian ketika aku pulang ke rumah, aku melihat Caliandra mulai keriput. Daunnya pun nampak tak lebat seperti terakhir kali aku melihatnya. Aku menatapnya kosong hingga terbawa suasana. Dulu, di bawah pohon Caliandra, Ibu, Aku, dan Ayah selalu berkumpul menikamati sore hari  dengan bercerita kejadian ‘unik’ di hutan. Kini, setelah Ayah berpulang ke Rahmatullah, Ibu selalu memandangi pohon itu dengan mata berkaca-kaca. Kadang, ibu duduk di bawahnya sendirian sambil menatapi daun Caliandra yang dihembus angin.
“Kau merindukannya? Caliandra berdaun rimbun?” Ucap ibu memecah keheningan.
“Ya Bu. Aku pun sedang merindukan Ayah.” Ucapku terlontar tak sengaja mengorek kesedihan.
“Bu, mengapa daun Caliandra mulai habis? Apakah selama aku pergi, ia terserang hama?”
“Tidak, Nak. Beberapa orang di desa memintanya untuk dijadikan obat. Setelah penelitianmu berhasil membuktikan manfaat Caliandra, warga desa banyak yang berdatangan kemari untuk memintanya.”
Ya. Di desaku, hanya Ibu yang memiliki Caliandra. Musabab Caliandra sempat dipandang sebelah mata. Lebih membuatku tak mengerti, Caliandra hanya bisa tumbuh di halaman rumahku. Aku berlalu bersama ibu dan meninggalkan Caliandra yang kesepian.
Caliandra sudah tua. Dia sudah menemaniku sejak aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. “Caliandra akan membuatmu bahagia.” Begitu pesan Ayah sebulan sebelum ia meninggal. Warga sekitar sempat ingin menebang Caliandra. Namun ibuku bersikeras ingin mempertahankannya. Terlebih tempat itu memiliki sejarah di dalam hatinya. Bahkan ibu sampai menelponku untuk segera pulang karena Caliandra terancam mati. Karena aku sedang berkuliah di program studi budidaya tanaman. Ibu yang memintaku mengambil konsentrasi itu. “Nanti kau bisa membudidayakan Caliandra kan, Nak?”
Ibu semakin rentan. Kini ia sering batuk-batuk. Kata ibu, itu hanyalah penyakit orang tua. Aku memandangi Caliandra. Barang kemungkinan ia bisa menyembuhkan ibu. Aku melakukan riset pada Caliandra dan dihubungkan dengan penyakit ibu. Hasilnya menunjukkan bahwa Caliandra bisa menyembuhkan ibu dalam waktu 1 minggu. Aku tersenyum dan lekas kembali ke rumah untuk memberikan obat yang sudah kuramu.
Hujan tidak turun. Angin pun tidak berhembus lantas menggoyangkan daunnya yang bersisa. Kudapati pintu tertutup rapat. Lampu teras masih menyala tak biasanya. Aku memasuki rumah seperti biasa. Tiba-tiba udara dingin menyergapku. Aku khawatir dengan keadaan ibu dan lantas mencari ibu di kamarnya. Ibu berselimutkan sarung milik Ayah. Mungkin ibu sedang merindukannya. Aku tersenyum melihat wajah damai yang tertidur pulas. Kutinggalkan stoples berisi obat untuk ibu di sebuah meja di kamarnya.
Matahari tepat berada di atas kepalaku. Aku sudah merapikan rumah dan menyiapkan makan untuk aku dan Ibu. Aku masih belum mendengar suara ibu hari ini. Kuhampiri lagi ibu yang kala itu masih tertidur. Aku mendekat dan mengusap tangannya yang selalu terasa hangat. Dingin! Dingin sekali. Kali ini aku merasakan dingin tangan ibu untuk pertama kalinya. Aku mendekatkan telunjukku dengan gemetar pada hidungnya. Tak ada udara yang berhembus. Aku terduduk lemas tak mempercayainya. Toloong!!
***
Kebahagiaanku direnggut waktu. Semua nada yang terdengar indah tinggal hanya nada yang berhembus kesepian. Aku menatap Caliandra yang masih berdiri dengan sisa daun di tangkainya yang kokoh. Cahaya berpendar. Esok adalah hari penghargaan untukku. Aku lulus dari Universitas tanpa senyum tulus Ibu dan Ayah yang mekar. Aku berderaian air mata dalam kesunyian.
Aku berhasil membudidayakan Caliandra. Ilmu yang kudapat, cukup membuat Caliandra hidup di halam rumahku yang baru. Aku memilih mengasingkan diri di sebuah desa yang jauh dengan rumah. Namun sesekali aku mengunjungi Caliandra yang semakin tua di depan rumah lamaku yang tak terawat. Aku duduk sendiri menatapi Caliandra yang memekarkan sebuah bunga berwarna merah. Aku melihat padanya dengan seksama. Memperhatikan 3 putik yang hadir di sana. Aku membayangkan kami sedang bercerita di sana. Namun yang kudengar hanyalah kesunyian.
Aku melangkahkan kaki tak merasakan gravitasi. Aku tersandung dan mengeluarkan darah di lututku. Seorang pemuda datang kepadaku dan menguyah daun Caliandra. Ditempelkannya pada lukaku. Aku tak mengenal siapa pria itu. Tapi, senyumnya begitu indah di sebuah kesenjaan yang kurasa sangat dramatis.
***
Aku menikah dengan pria itu. Namanya Seno. Dia membuatku percaya bahwa ibuku tak pernah marah karena aku terlambat memberinya obat. Dia memintaku untuk terus melakukan riset pada Caliandra. Kali ini pada bunganya yang cantik. Seno hadir dan mengisi kekosongan dalam hatiku. Sejak Ibu pergi, tak ada yang mampu membuatku tersenyum selain, Seno. Seno pun membantu risetku karena ia memiliki minat yang sama pada tanaman. Lebih tepatnya, Seno adalah kakak tingkatku yang sudah lulus 3 tahun yang lalu.
Halaman rumahku semakin berwarna. Kini Caliandra dapat menghasilkan bunga berwarna kuning dan biru. Aku memiliki anak kecil berusia 4 tahun. Listi namanya. Ia selalu mengajakku bermain di bawah pohon Caliandra. Listi selalu bertanya mengapa ia merasa bahagia ketika sedang duduk di bawah pohon itu. Aku pun tak mengerti mengapa ucapan itu bisa terlontar dari mulut anakku. Aku tersenyum dan menunjuk  satu warna pada bunga Caliandra.
“Listi suka warna biru kan?”
“Iya. Listi sangat suka.”
“Itulah mengapa listi bahagia. Esok, ibu akan menghadirkan warna oranye di pohon yang baru ditanam ayah.”
Listi memelukku.
Aku melihat, Seno sedang menatapi pohon terbarunya. Aku mengampiri dan mematung di sampingnya. Matanya melirik lalu tersenyum.
“Ia akan hadir di sini.” Ucap Seno.
“Siapa?”
“Caliandra yang kita sukai.”
“Bukankah kita memang sudah menghadirkannya di sini?”
“Caliandra milikmu sewaktu kecil. Caliandra yang akan sama besar dengan yang ada di rumahmu yang lama.”
Aku tak bergeming,
Awan memanggil hujan. Sudah beberapa hari ini cuaca tak menentu. Beberapa Caliandra di depan rumahku mati. Kecuali Caliandra milik Seno. Ia masih kokoh walau diamternya baru 5 cm. Seno menirukanku memandangi Caliandra dari balik jendela. “Ia akan baik-baik saja.” Bisik seno.
“Seno.”
“Ya?”
“Mengapa kau melakukan ini? Menghadirkan Caliandra itu di halaman rumah kita?
“Karena aku ingin kau selalu bahagia. Senyummu selalu mengembang ketika bunga itu mekar.”
“Terimakasih, Seno.” Ucapku terbawa angin.

***
Caliandra. Mengapa kau pernah kesepian? Dan mengapa kini kau gugur lagi? Aku sudah lama mencintaimu. Bahkan sejak aku masih SD. Kau pun selalu mengingatkanku pada orang tuaku. Hembusan angin belum memekarkan bunga. Apakah kau akan hanya mekar jika kumbang datang?
Caliandra. Pada akhirnya mereka akan menyadari kekuatanmu. Kau yang dipandang sebelah mata kini banyak dicari-cari. Semua ucapan memujimu, Caliandra. Jika hari ini kumbang tak bisa membuatmu jatuh cinta pada alam, bisakah setidaknya kau jatuh cinta padaku? Bertahan untukku, Seno, dan juga Listi.

Jurnalistik

Cahaya lampu meja menyinari seluruh pekerjaanmu. Perlahan kau mulai duduk dan mengamati coretan di buku berspiral kesukaanmu. Kau mengerutkan dahi. Mungkin kau sedang berpikir akan kelanjutan kisah itu. Tanganmu mengambil pensil dan mulai menulis.
***
Lemari kaca. Di dalamnya berderet gelas-gelas, kotak musik, dan foto keluarga. Kau berada diantara aku dan dia. Kau sedang memeluk buku berspiral.  Kau sangat gemar menulis. Beberapa diantaranya telah kau ketik ulang dan dikirimkan ke media cetak. Tanpa sadar, aku terperangkap ke dalam buku itu. Hembusan angin yang menelusup lewat celah jendela itu sudah tak dapat kurasakan lagi.
Aku memandangimu dari jauh. Kau sedang memperhatikan pria itu dengan tatapan mengintai. Pria itu sedang duduk di depan meja kerjanya. Ditemani dengan segelas kopi hitam dan alunan musik klasik. Sejak 5 tahun yang lalu, ketika ia jatuh cinta pada seorang gadis, dia sangat gemar menulis. Namun, ia jatuh cinta pada wanita yang salah. Hasratnya dalam menulis mulai porak-poranda. Bukan karena gadis itu yang melarangnya, tapi karena dia telah pergi untuk selamanya.
  Kau menghampiriku dengan wajah kebingungan. Lalu meminta padaku sebuah buku berspiral yang sama persis dengan milik ayahmu. Kau mengoyak-oyak tanganku sambil merengek. Aku tetap diam. Namun kau masih terus meminta.
Aku berjalan menuju kamarmu. Kau sedang berbaring dengan sebuah kertas HVS dan menuliskan cita-citamu. Jurnalis. Begitu tulisanmu terbaca. Matamu menangkapku dari celah pintu yang kubuka sedikit. Kau menghampiriku dan kembali meminta. “buku berspiral, Bu. Aku ingin yang seperti ayah miliki.”
Kita berjalan berdampingan. Kau nampak tersenyum bahagia ketika mendapatkan buku berspiral itu. Buku itu menjadi milikmu ketika kau bertemu dengan penjaga toko buku. Kau membolak balikkan lembar demi lembar dan mulai mengukir kalimat padanya.
***
Ayah sudah lama berada di balik dunia itu. Sejak ia jatuh cinta dan berakhir ketika ia patah hati. Tak lama kemudian ayahmu meninggal ketika usiamu 8 tahun. Kau hidup bersama pamanmu, Fikri. Kau anak yang malang, namun keinginanmu sangat kuat. Paman Fikri menyekolahkanmu di sekolah jurnalis Indonesia di Bandung (SJI). Tak lama dari itu kau mulai aktif di dunia jurnalis.
Seperti pagi ini kau terbangun dengan manuskrip yang masih harus kau benahi. Matamu agak sembab lantaran kau baru saja kehilangan sahabatmu. Kau berbisik pada foto di lemari kaca itu, “Aku akan datang bersama calon istriku.”
Kartu pers menggantung di lehermu. Dia berayun beriringan dengan langkahmu. Juga dengan beberapa catatan kecil yang akan menemani pekerjaanmu hari ini. Kau mendengar kabar bahwa seorang wartawati telah meninggal dunia di kamar indekosnya. Kau akan mengungkap kematiannya.
***
Lampu kamarmu belum menyala. Kau belum pulang nampaknya. Aku sudah menunggumu dari sejak tadi pagi kau menutup pintu rumahmu. Aku sudah menyiapkan teh, walau hanya aku sendiri yang bisa merasakannya. Aku pun sudah menyiapkan air hangat untuk kau mandi. Kreek.. Pintu terbuka. Wajahmu begitu kusam dan juga aroma matahari masih melekat pada rambutmu yang hitam lebat. Kau bergegas untuk istirahat. Aku paham, kau pasti lelah dan sedang tak ingin membicarakan tentang calon istrimu.
Pagi ini kau sudah siap lagi dengan baju dinasmu. Aku menaksir tas itu pasti penuh dengan tugas-tugasmu hari ini. Langkahmu kembali terhenti di hadapan lemari itu. Kau menghampiri. Wajahmu sejenak menunduk. Menyentuh pigura dan mencium foto kita. Calon istriku sedang sakit. Pernikahan kami ditunda. Ucapmu. Kemudian langkahmu meninggalkan rumah ini.
Aku hadir dalam buku ini sudah sangat lama. Sejak pertama kali kau menuliskan kisah kita. “Melubangi dada Mama” Tulisan pertamamu di koran. Aku tak mengerti. Padahal, kau sama sekali tak melubangi dadaku. Paman Fikri membiarkanmu hidup mandiri sejak kau bersekolah di SJI. Kau menerimanya sukarela dan menghidupi dirimu dari hasil menulis.
***
“Ibu?” Pertanyaanmu setengah berseru saat pertama kali berjumpa dalam buku berspiral itu. Kau membawakan sebuah karya terbarumu. Kau telaten memajang setiap karyamu di majalah dinding di kamarmu.
“Kau sosok yang seperti apa sekarang? Aku hanya bisa mendengar suaramu.” Katamu pada suatu malam.
“Entahlah.. Aku merasa seperti bidadari yang selalu mengawasimu.”
“Lalu.. Mengapa saat itu aku sangat menginginkan buku ini?”
“Aku tak tahu pasti. Tapi kau selalu meniru kebiasaan ayahmu. Pria yang menurutmu sikapnya sangat dingin padamu.”
Kau terlelap dalam alunan musik klasik. Kau masih manis. Setiap hari, buku itu selalu berisi cerita. Lembar demi lembar terisi. Mengisahkan betapa bahagianya memiliki seorang ayah yang cuek namun ada makna dibaliknya. Anakku Santi, seorang jurnalis.

Sabtu, 05 Maret 2016

Aklimatisasi Hati

Aku melintasi jalan itu seperti biasa. Alunan klasik menelusup lewat headphone merah jambu. Langkahku lambat seperti biasa. Menikmati pagi yang masih berbau embun. Firasatku tiba-tiba bertabrakan dengan pagi itu. Apa ini? Bau kenangan? Aromanya sangat lekat di depan penciuman. Warnanya pun begitu khas masa lalu—hitam putih dan abu-abu. Aku tak tahu apa yang membuat langkahku menemui detik yang dulu pernah kulalui bersamanya. Mungkin karena puisi dan juga bahasa indah.
Aku melihat kau sedang menatap langit yang mulai gelap. Bahasamu lebih santun dari terakhir pertemuan kita. Kujabat tanganmu dan kulempar senyum seperti biasa. Jadi, kau masih menulis puisi? Ungkapku melihat selembar kertas bertuliskan senja. Kau hanya tersenyum pada alam lalu menulis kata selanjutnya, indah—senja yang indah.
Ini akan menjadi pandangan buruk. Anak kiyai Rosidin belum kembali ke pondok di senja seperti ini. Begitu katamu menyapaku di kesenjaan. Kita langkahkan langkah kecil-kecil menuju taman yang dikerumuni banyak orang. Setidaknya kita tidak hanya berduaan saja. Begitu lagi ucapmu membela keadaan.
Kita sudah menunaikan solat. Kutemukan wajahmu bercahaya. Aku kira itu adalah efek lampu penerangan jalan. Kau membawaku menuju pinggiran jalan di mana orang-orang berlalu-lalang. Mulutmu masih terkunci rapat. Sementara aku terus memikirkan kalimat apa yang paling baik untuk menyudahi pertemuan itu. Wajahmu masih terlihat bahagia. Kulihat sudah 1 bait kau menulis syair itu. Kau yakin masih ingin di sini? Pertanyaanmu mengetuk keras pikirku. Aku memang ingin pulang tapi—aku menunggu kalimat yang ingin aku dengar.
“Kau tahu, aku bermimpi tentang diriku sendiri. Itulah yang membuatku memintamu untuk hadir di sini—di antara syair yang akan tertulis. Aku melihat diriku berjalan sendirian, tanpa arah maupun tujuan. Aromaku khas keputusasaan. Tatapku berkunang-kunang memandangi deretan lampu kota berwana kuning. Angin malam semakin menekan mataku. Pun dengan alam yang menurunkan hujan. Hujan yang menurutku tidak menyejukkan sama sekali kala itu. Langkahku sampai pada jembatan tua. Aku dengar jembatan itu sangat bersejarah. Konon—di sana adalah tempat Dewi Kelana membunuh dirinya sendiri. Bagi siapa saja yang melintasi jalan itu dengan perasaan patah hati, Dewi Kelana akan hadir dan menyembuhkan lukamu. Aku tak merasa patah hati saat itu. Tapi langkahku terus menju ke jembatan itu.” Aku menyimak perkataannya dengan seksama.
Ketika aku sampai di jembatan itu, aku tak menemukan siapapun di sana. Hanya angin malam yang semakin menekan, juga rinai yang kini berinai-rinai. Aromaku semakin tak karuan, antara kegelisahan juga ketidakserasian. Aku tinggal di sebuah pesantren. Di sana aku mengagumi sosok wanita yang sangat anggun. Mimpiku mengatakan bahwa wanita itu bernama Dewi, anak pak Kiyai Rosidin. Aku tercengang dan semakin penasaran.
“Mimpi itu belum berakhir. Hingga langkahku terhenti di ujung jembatan. Jembatan yang saat ini sedang kita duduk dan kuceritakan mimpiku.” Aku menghela nafas panjang mempersiapkan konsentrasiku. “Lalu hadir cahaya yang sangat terang menjemputku dan aku terbangun dari mimpiku. Kemudian aku menuliskan cerita tentang Dewi, yang katanya adalah anak Kiyai Rosidin. Sejak itu aku mencari alamat pesantren Daarul Madani dan memutuskan untuk tinggal di sana.”
Aku berkedip-kedip penasaran akan arti mimpi itu. Padahal aku dan dia memang sudah asling mengenal sejak dulu. Apa maksudnya dengan mencari tahu tentangku? Bahkan jika boleh diulang—dia adalah mantan kekasihku—dulu sekali saat aku baru mengenal lawan jenis. Begitu pun dia yang mengakhiri hubungan kami lantaran keyakinannya pada aturan islam yang mengharamkan pacaran.
Langit mendung tak karuan. Angin bukan lagi menekan, mungkin ia menusuk. Beberapa orang melintasi kami dengan tatapan aneh. Tentu saja aneh. Kami—aku yang berkerudung panjang sedang duduk dengan pria berpeci. Atau mereka berpikir bahwa kami sudah menikah? Aku mulai sadar bahwa larut sudah sangat dekat.
Kau melirik pada jalanan yang mulai sepi. Begitu pun aku merasakan sunyi mulai meliputi keadaan. Aku berdiri dan mengucapkan salam. Dia mengangguk dan mengatakan bahwa esok akan datang menemui ayahku. Nadanya menekan ketika ucapannya adalah “Ayahmu”.
Bersambung

Jumat, 04 Maret 2016

Pelangi

Aku datang membawa kerinduan yang tertunda. Kulalui jalan yang masih sama seperti dulu--jalan berbatu dengan bunga sepatu di sepanjang jalan. Pria dengan celana hitam panjang sedang duduk di tengah pintu. Memangku sebuah kertas yang aku rasa masih suci. Mungkin ia tak takut apabila jodohnya kembali lagi kerumhanya lantaran ia menghalangi pintu masuknya. Ya, karena ia mungkin sudah berkeluarga. Aku langkahkan kakiku mencoba gaduh. Liriknya sempat menangkapku, namun ia terlepas lagi dan memilih selembar tak berdosa di pangkuannya.

Aku memanggilnya Mas Salim. Usianya terpaut dua tahun denganku. Dia kakak kelasku yang pandai berpuisi ketika aku masih SMA Dulu, kami selalu memandangi langit senja bersama. Memuisikan alam, angin, dan hujan.

Wangi tubuhku khas ala gadis desa. Warna kulitku, baju kebaya yang kuikat ujungnya pun sudah sangat menyerupai gadis desa. Tinggal logatku yang--sunda sekali. Orang berlalu-lalang melintasi rumah nenekku. Beberapa diantaranya melempar senyum dan menanyakan kabarku. Aku mengerti yang mereka katakan. Karena itulah aku menjawabnya, walau dalam bahasa Indonesia.

Pukul 09:00. Nenek dan kakeku baru saja datang dari mencari pakan ternak. Aku ingin sekali ikut ke 'alas'. Barang mungkin aku bisa bertemu dengan nada yang indah di sana. "Nanti kulitmu yang halus bisa tergores ranting." Itu ucap nenek saat aku ingin pergi.


Langkah damai di sore hari membawaku ke sungai Serayu. Kata ibu, sungai itu 'dihuni' oleh sosok pria tampan. Ia akah hadir selepas hujan bersama pelangi yang bersembunyi dibalik gunung besar yang entah gunung apa namanya. Aku duduk menunggu hujan. Di sebuah gubuk tua bersama pencahayaan kecil dari handphone-ku. Keadaan di sini cukup berbeda. Di pinggir sungai aku melihat sebuah batu tertata bersama batu kecil yang biasa aku duduki Ketika SMA. Hari mulai gelap. Hujan mulai menemani. Alam pun memberikan pertanda dari sebuah rintikan yang teratur menyentuh bumi. Warnanya perlahan semakin jelas. Namun mataku masih kabur menatap warna yang tercipta pasti. Me-ji-ku-hi-bi-ni-u. Begitu warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu terbentuk.

"Hai. Boleh duduk di sini?" Begitu ucapmu mengangetkanku. Aku jelas terperanjat dan meng-iyakan permintaanmu. Kau membawa selembar yang aku pikir, ia masih suci. Dan benar saja ia masih suci. Aku tampak kikuk. Melihat pemandangan yang hampir sempurna bila kau ada di sampingku. Belum lagi degup jantungku yang seharusnya baik-baik saja. Seharusnya.

Menunggu hujan? Ah tidak. Jangan seperti itu. Mmm.. Mencari inspirasi? Oh dia pasti akan mengatakan aku sudah menciptakannya.

Aku sedang menunggu suara lembut milik, Yunita. Begitu ucapmu seakan bisa membaca pikiranku. Aku meringis. Ternyata kau masih mengingatku. Hujan mulai reda namun sisanya masih kebimbangan. Suara alam mulai tetdengar jelas. Kau menutup telingaku dengan headphone putihmu. Aku menatapmu. Kau tak suka bunyi jangkrik. Begitu mulutmu terbaca.

Angin menerpa kita. Kau menutup mata seolah menikmati setiap sentuhannya pada tubuhmu yang hanya dibalut dengan sebuah kaos berwarna putih. "Kenapa kau masih tak bernada?" Aku melepas satu penutup telingaku. Memastikan apa yang baru saja kau ucap. "Mengapa kau masih tak bernada?"

Aku menarik napas dalam.

Wangi angin..
Padang rumput di sore hari..
Sampaikan.. Salam.. Gembira..
Hal yang menyenangkan hati,
Banyak sekali bahkan kalau kita bermimpi.
Sekarang ganti baju, agar menarik hati,
Ayo kita mencari teman.

Begitu lagunya. Lagu yang membuat kita bersama dan saling mengingat sampai kini setelah 5 tahun kita berpisah.

Suaramu masih merdu. Khas anak kelas 2 SMA. Ucapmu memecah kesunyian setelah beberapa menit kita menutup mata. Aku ingat. Kau selalu mengatakan itu setelah aku bernyanyi lagu kesukaan kita.

Kau masih berpuisi? Ucapku kemudian. Kau mengangguk malu dan memberikan aku selembar kertas berjudul Alam dan Kesedihan. Puisi itu ditulis pada tanggal 12 Juni 2010. Tepat saat kepergianku ke kota rantau (baca: Bandung)

Aku selalu datang kemari untuk menjaga pangeranmu, pelangi, dan juga senja yang kau cintai. Aku pun mengenali bunyi sepatu yang kau hentakkan sepanjang melintasi rumahku. Ucapmu kemudian.

Aku menyimpan kebahagiaan. Rasanya hampir meletup-letup seperti pop-corn. Apakah itu berarti dia masih menyukaiku?  Hei! Dia sudah berkeluarga. Mana mungkin dia menungguku.

"Apa kau mengira aku susah menikah?" Lagi-lagi kau membaca pikiranku. Aku menunduk dan mengiyakan pertanyaanmu. "Aku sengaja menjaga pintu rumahku agar tak ada yang bisa memasukinya selain dirimu." Aku semakin gila.

Dia hilang. Pelangi itu mungkin sudah terbawa angin. Warnanya tinggal pemandangan langit sore. Tawa kita memenuhi alam yang kesepian. Sampai kau berkata, " Bolehkah kujadikan kau bidadari yang akan hadir menggantikan pangeran ketika pelangi muncul? Dan bisakah aku menjadi pangeran di duniamu yang sepi?"

Kelabu

Langit cerah. Wangi angin sore di padang rumput hijau aroma kebahagiaan. Seharusnya begitu. Lantunan musik saja masih terdengar merdu. Hingga kau hadir dengan wajah dipenuhi kesedihan. Kau menunduk beserta selembar kertas di tanganmu.
Aku mendengar bahwa kehidupanmu akan berubah. Begitu kau sering mengulang kata itu: berubah. Aku pun sadar betul dengan arti kata itu. Kau mulai berubah dari semua sisi, termasuk perhatianmu yang akhir-akhir ini tak ada lagi di hariku. Novel yang kubaca bahkan tak membuatku emosi dengannya. Semua mulai terasa—hambar. Cerita yang berulang terjadi, kini hanya kenangan. Kau berjalan ke barat dan aku tak mengikutimu.
Rupanya kau sedang berbahagia. Alam memberiku kabar bahwa kau sedang bersama duniamu yang baru. Kau berseda gurau dengannya. Aku berjalan tepat melewati batang hidungmu dan kau tak melihatku. Apa kau berpikir bahwa aku adalah angin lalu? Yang hanya melintas lalu menghilang.
Aku baca berkali-kali kisah yang pernah terukir di buku bersampul biru. Warnanya begitu bahagia. Terlebih dengan kedekatan kita—pada awalnya. Hingga kini semua itu hilang. Aku menerka-nerka akan apakah yang membuatmu berpaling begitu mudahnya?
Bukan angin lalu. Mungkin aku adalah detik yang berjalan kebelakang. Mencari-cari sisa kenangan untuk aku kenang atau aku simpan dalam ingatan. Rasanya pahit—begitu banyak orang mengatakannya. Namun aku tak ingin melupakan itu dengan mudahnya, belum lagi tulisanmu yang berterbangan di sosial media. Semua terasa nyata. Seperti awal ketika kita—sedang jatuh cinta.
Apakah aku terlalu mencintaimu? Rasanya sungguh berat ketika semua nada, detik yang pernah berlalu, dan genggaman yang hangat itu kini sudah tak berarti lagi. Aku begitu berharap bahwa sore itu aku tak bertemu denganmu jika kau akan pergi pada akhirnya. “Stasiun kereta api: ada yang naik dan ada yang turun.” Lalu, mengapa kita tak berjalan bersama saja?
Rinai itu mengingatkanku kepadamu. Semua hal yang kutemui mengingatkanku kepadamu. Aku mempertanyakan pada waktu, apakah kau sudah melupakan itu semua? Apakah semua itu sudah tiada artinya lagi? Aku ingin lekas meninggalkan perasaan ini. Seperti halnya kau yang kini sedang bahagia dengan duniamu. Namun itu lagi permasalahannya. Aku—terlalu mendambakanmu. Dongeng indah tentang dinda dan kanda yang kita ciptakan, masih aku rasakan. Walau mungkin kini kanda sudah tiada.
Aku, Alinda. Hidupku kelabu sejak kau meninggalkanku.
 

Kartini Nurhasanah Template by Ipietoon Cute Blog Design