Minggu, 21 Februari 2016

Sepersekian Detik yang Terlambat

Dika. Dia seumuran denganku. Bulan lahir kami sama, November. Kami sama sama pendiam dan tidak suka keramaian. Satu yang berbeda, aku memiliki kekasih dan dia tidak.
***
Aku mengenalnya sejak kelas 2 SMP. Dia tak sering masuk sekolah karena sakit-sakitan. Itulah mengapa aku mengenalnya. Selain itu, Dika adalah sosok yang rajin di kelas. Bu Imas, guru Bahasa Inggrisku pernah menunjuk kami menjadi perwakilan kelas F untuk kegiatan kunjungan dari Bandung International School. Tak jarang pula aku melihatnya dijemput oleh ibunya dengan sepeda motor listrik. Sementara aku dan peer groupku berjalan melewati aspal Panyirapan yang panasnya melelehkan alas sepatuku.
Selama aku mengenalnya, tak satu pun kata pernah terlontar antara kami. Aku pun tak sering melihatnya bercengkrama dengan teman dekatnya. Dia jarang bicara dan begitu pendiam. Hingga satu kesempatan aku melihat di sudut pandangku, ia sedang memperhatikanku. Aku bahkan tak yakin bahwa ia memandangiku. Esoknya, aku masih melihatnya memandangku. Berulang hingga beberapa hari ke depan dan masih tetap sama. Tatapan tanpa sapaan. Bahkan aku ragu bahwa ia tahu namaku.
Hujan begitu deras. Kelasku terletak di sebelah utara gedung utama sekolahku. Tanah merah membuat sepatuku menyisakan jejak di lantai. Ada satu jejak yang sama di depanku. Itu bukan jejakku. Jejak sepatu Dika yang ia tinggalkan hingga menuju kelasku. Aku tak mengucapkan salam dan duduk di bangku paling depan. Saat itu hanya ada kami, juga sisa pelajaran kemarin yang masih membekas di papan tulis. Aku membuka lembaran kosong di bukuku. Aku ingin sekali menyapa anak itu. Si penyendiri yang tak pernah kudengar suaranya itu. Namun kali ini ia tak menatapku sama sekali. Seolah aku tak berada di sana. Ia sedang duduk memandangi anak kelas lain yang berlarian karena kehujanan.
***
Aku selalu duduk di barisan paling depan. Bukan karena mataku minus. Aku lebih suka jika tatapanku langsung menuju pada guruku. Belum lagi glukaoma yang aku alami, membuatku tak jarang meninggalkan pelajaran. Ibuku tak jarang menjemputku, dengan sepeda listrik yang  lagi ngetren kala itu. Aku duduk seperti anak kecil di belakangnya. Merasakan mentari yang panasnya seakan melelehkan ban sepeda motor listrik ibuku.
Aku melihat seorang gadis yang duduk sebaris denganku. Hanya terhalang oleh satu bangku saja. Hasni. Kerudungnya cukup rapih dibandingkan anak-anak yang lain. Jika aku melihat wajahnya yang bulat itu, aku bisa merasakan ke-jutekan yang amat besar. Dia supel, rajin, dan memiliki peer group yang menyenangkan. Selama kami berada di kelas yang sama, kelas F, tak satupun kami pernah menghamburkan kata secara bersamaan. Bahkan ketika aku dan dia dipilih menjadi perwakilan kelas untuk kegiatan kunjungan dari Bandung International School. Masih tak juga aku berkenalan dengannya.
Pagi itu masih berkabut. Belum banyak siswa yang datang sepagi ini. Selain berkabut, pagi itu turun hujan. Daerah sebelah utara gedung sekolahku masih belum dipasang paving block, membuatku menyisakan jejak merah di lantai. Aku membuka pintu kelasku yang baru saja dibuka gemboknya. Kelas masih sangat sepi dan begitu dingin.  Bertambah dingin ketika anak itu memasuki kelas. Suasana cukup menegangkan untuk anak kecil seusia kami. Entah mengapa aku ingin menyapanya. Dia satu-satunya wanita yang ingin aku sapa dibanding teman yang lain. Dia jelas bukan pendiam, tapi tatapannya yang acuh dan jutek itu membuatnya, um, terlihat cantik.
Dia membuka bukunya. Membolak-balik kertas kosong yang masih sepi. Sama sepinya kelasku yang masih belum ada siswa yang datang. Di luar, anak-anak berlarian diserbu hujan yang semakin deras. Mereka mengibas-ngibaskan rambutnya yang kebasahan. Satu per satu temanku berdatangan. Kelas menjadi hangat, walau sebenarnya hatiku masih tetap dingin. Lebih dingin lagi ketika aku melihatnya, namun ia tak melihatku.
***
Aku berencana mengunjungi rumah temanku, Aul, di Soreang Indah. Seperti biasa pula kami tertawa dan menceritakan hal yang tak penting. Jalannya begitu berliku, bukan karena berbatu atau curam, begitu banyak tikungan. Aku masih tertawa dan tak menyadari, Dika melintas dihadapanku dengan sepeda yang bukan milik ibunya. Aku hampir lupa padanya. Sudah 2 tahun lalu sejak terakhir kali aku melihatnya. Dia tampak berubah. Namun satu yang pasti, kami masih tak saling menyapa. Sepersekian detik yang masih tetap sama.
Aku diajak makan siang di rumah Aul. Sambal buatan ibunya Aul begitu enak. Juga sayur sop jagung yang juga enak. Aku makan bersama keluarga Aul, kecuali ayahnya yang sedang di luar kota. Setelah perut terisi, aku keluar dari rumah Aul, merasakan terik yang begitu menyengat. Mataku menyipit kala itu, bukan karena teriknya. Aku memfokuskan pandangan melihat seseorang jarak 10 meter. Dika! Teriakku tak terucap. Ya, Dika sedang melajukan sepedanya tepat melintas dihadapanku. Refleks. Keinginanku sejak SMP untuk menyapanya terjadi di sepersekian detik itu.
“Dika..” Ucapku mengambang. Entah menyapa atau bertanya memastikan bahwa ia adalah Dika, teman SMPku.
“Ya..” Jawabnya tak berekspresi.
“Kamu Dika teman SMPku kan?” Kini aku memastikan.
“Iya..” Jawabnya datar.
“Kamu sekolah di mana sekarang? Boleh minta nomor handphone? Aku ada PR Bahasa Inggris.”
“Di SMAN 1 Soreang. Oh, iya boleh. Rumahku berpagar hijau di ujung jalan ini.”
Degup jantungku tak karuan. Terik panas itu membuatku bertemu dengannya. Kini aku sudah berani menyapanya, si anak pendiam. Kini aku tahu bagaimana suaranya. Suaranya berat, khas anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Aku tersenyum sendiri di depan rumah, Aul. Seperti melepas rindu yang tertahan. Bahagia.
Aku tak tahu, apakah aku jatuh cinta padanya sejak SMP atau tidak. Bahkan aku tak tahu apa itu cinta. Langkahku masih tak beranjak sejak aku bertemu dengannya. Kini, langkahku masih menuju rumah berpagar hijau. Sudah sampai ujung. Aku berjalan mondar-mandir di sana. Tak kutemukan rumah berpagar hijau yang ia maksud. “Rumah Dika yang itu, Kak,” Ucap anak kecil yang sedang main sepeda di halaman yang entah rumah siapa. Tak lama kemudian, Dika keluar. Senyumnya mengembang lebar untuk pertama kalinya. Aku sadar akan itu, hingga kami berhadapan. Dia memberikan telapak tangannya yang sudah bertuliskan nomor handphone-nya.
***
Siang itu sangat terik. Aku melajukan sepedaku menuju warung 123. Orang-orang mungkin sedang tidur siang. Hanya ada beberapa penikmat terik di siang ini. Begitu pula 2 gadis yang sedang tertawa entah atas dasar apa. Aku melintasi mereka. Tak dengan seluruh pandanganku, jelas terlihat wajah jutek itu. Hasni. Dia masih di sini. Namun kakiku tak berhenti mengayuh sepeda hingga tikungan yang membuat kami berpisah.
Aku ingin menyapanya. Namun rasa inginku dikalahkan oleh ketidak adaannya keberanian untuk berucap. Entah kapan terakhir aku bertemu dengannya. Wajahnya masih cantik seperti terakhir aku melihatnya. Kerudungnya masih rapih, begitu pun wajah juteknya yang masih sama. Berbeda ketika aku memandangnya, wajahnya mengekspresikan rindu yang tertunda. Aku mengayuh lagi dengan perasaan sedikit senang. Melintasi perumahan Soreang Indah yang masih sepi karena panas begitu menyengat.
10 meter jaraknya. Aku melihat seorang gadis tengah berdiri di depan rumah yang aku tak tahu itu rumah siapa. Perlahan tapi pasti, penampakan gadis itu menyerupai, Hasni. Ya.. Hasni! Teriakku keras dalam pikirku. Tapi kakiku tak berhenti mengayuh. Aku tak bisa menghentikannya dengan pasti. Aku terlalu gugup untuk pertemuan yang mendadak itu. Menyembul namaku yang ia setengah teriakkan. “Dika..” Ucapnya mengambang. Kini aku tahu suaranya. Tatapnya sudah tak membuatku merasa sendirian. Aku masih melihtanya secantik dulu ketika kami masih sama-sama duduk di bangku SMP.
Aku mulai bertukar nomor handphone dengannya. Hidupku yang sepi mulai terisi oleh kehadiran anak jutek yang sangat ingin aku kenal sejak SMP. Sudah 2 tahun tertahan salam perkenalan ini. Dia adalah pengecualian bagiku. Dia satu-satunya yang mampu memasuki hidupku yang sepi. Ya.. Hidupku yang hanya ada aku dan duniaku yang mono: tak berwarna.
***
Aku semakin mengenalnya. Kepribadiannya yang unik dan menyenangkan. Jika tahu begini, sudah lama aku menyingkirkan keraguanku untuk mengenalnya. Pagi ini aku menunggunya di depan jalan Gading Tutuka. Ternyata sekolah kami bertetangga. Jalannya masih khas, seperti dulu terakhir kali aku melihatnya membuat jejak di lantai depan kelasku. Dia tersenyum lagi. Senyumnya bertubi-tubi, begitupun denganku. Langkah kami sudah beriringan. Jalan yang cukup ramai itu seolah tiada arti. Aku berdialog dalam dunianya yang sepi.
“Ini cerita yang kamu minta.” Dika masih melempar senyuman.
“Makasih ya, Dik. Aku harus ngasih apa nih?”
“Aku minta satu, tapi akan terasa berat untuk kamu.”
“Apa?” Lirikku penasaran.
“Maukah kamu menemaniku dalam duniaku yang sepi?” Lirikku pada matamu yang juga menatapku.
“Tapi, duniaku sudah tak sepi lagi, Dik.” Kau menunduk
Jalanan yang ramai, terasa begitu hening. Kegugupan antara kami begitu terasa. Membawa memori ketika kami saling terduduk tanpa sepatah kata. Lembar cerita dan mentari yang bersinar cukup tertang pun menjadi saksi. Bukan aku takut merajut kasih. Namun hatiku telah terlebih dahulu melupakan perasaan yang seharusnya hadir saat ini.

Sabtu, 20 Februari 2016

Sekelebat Sunyi

“Aku tahu kita memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Banyak orang berkata pula bahwa kelebihan dan kekurangan itu diciptakan untuk saling melengkapi. Bahkan kalian pasti setuju pula dengan hal yang berpasang-pasangan itu. Itu pula mengapa dia (pendiam) kini berpasangan dengan aku (yang lebih cerewet).
Ini bukan perjumpaanku yang pertama dengannya. Namun degup jantungku masih pula tak beraturan. Dia kekasihku sudah sejak 9 bulan yang lalu. Sejak itu pula aku mulai mengenalnya. Caranya berjalan dan nada bicaranya. Ketika itu aku sedang kesal karena tahu bahwa ia tak akan mengantarkanku ke kota perantauanku (baca: Malang). Pipiku sudah mengembang bagai kue bolu yang terlalu banyak pengembang. Juga tatapku yang kala itu tak ingin menatap siapa pun. Hanya kerikil di jalanan yang tak kesepian, juga derap langkah yang saling berkejaran. Dia sudah berdiri tepat di depan gang kontrakannya. Remang-remang aku menatapnya, namun aku tahu itu adalah dia. Ya.. Kekasihku yang sangat pengertian dan begitu penurut.
Aku tak menoleh atau pun tak menghentikan langkahku ketika aku melewatinya. Kini dia sudah ada di sampingku dan menyenggol-nyenggol pada tasku yang begitu sesak kala itu. Aku hanya terdiam kesal bila mengingat bahwa ia harus sibuk dengan organisasinya di saat liburan seperti ini. Aku mengunci rapat mulutku. Bahkan mungkin minusku akan bertambah ketika aku melihat wajahnya. Ya.. Dia masih terus menggodaku. “Aku akan mengantarmu ke Malang.” Sontak perkatannya membuatku menatapnya dan juga ransel hitam yang digendongnya. “Dengan tas yang tak ada isinya itu?” Ucapku kemudian. “Kamu jangan menghibur aku. Aku tahu kamu sibuk. Jadi, tak usah khawatir. Tak akan ada yang mau menculikku.” Ucapku mencoba tegar. Tapi, dia selalu membuatku bisa tertawa, bahkan ketika hati ini sedang tak baik-baik saja. Secamacam stimulan. Ya.. Atau enzim, yang membuat suatu pekerjaan menjadi lebih mudah. Aku mudah melepas penat yang mengganjal. “Ikut aku ke Malang pliss..” Kataku merengek. Aku mulai jujur padanya.
Aku setuju. Usia tak mencerminkan seberapa dewasa dirimu. Jika kau lebih muda dariku, belum tentu kau lebih kekanak-kanakan dariku. Aku bisa melihat itu. Tatapanmu yang seolah merasa bahwa aku adalah adikmu yang perlu kau lindungi. Atau kah semacam pendestruksian? Ya.. Kau berhasil mendestruksi moodku yang sedang kacau. “Aku juga butuh liburan. Aku masih bisa mengerjakan tugasku karena esok aku sudah kembali ke Surabaya.”
Sepanjang jalan itu aku berniat untuk tidur. Aku akan senang karena kali itu aku sedang bersamanya dan kemungkinan ia akan menjagaku. Namun, ekspektasi dan realita sedang berbanding terbalik saat itu. Aku menjaganya. Bukan karena aku lebih tua darinya. Aku melihat wajahnya yang begitu kelelahan. Aku merasa bersalah kala itu. Belum lagi aku yang memaksanya untuk menemaniku. Namun, aku merasa beruntung. Dia selalu mencoba membuatku bahagia. Meski tak jarang ia mengatakan bahwa dirinya masih belum bisa membahagiakanku. Ya.. Kami hanyalah remaja yang sedang saling jatuh cinta. Mencintai sewajarnya usia kami dan mencoba saling mendewasakan.
***
Pagi sekali ia sudah membangunkanku. Mengajakku berkeliling atau sekedar mampir ke alun-alun. “Aku sudah di depan.” Bisa kubayangkan wajahnya yang menaruh seribu rahasia itu sedang berdiri kesepian karena pagi masih cukup pagi. Wajah itu masih belum terlepas dari kelelahan. Raut wajahnya, tatapnya, langkahnya, bahkan caranya menggenggam tanganku, begitu mengisyaratkan kegundahan. Apakah karena kami sama sama lahir di bulan November? Yang kami perlihatkan pada dunia, belum tentu watak kami yang sebenarnya.
Angkutan GL membawa kami menuju alun-alun. Kami duduk berhadapan. Kadang, tatap ini bertabrakan lalu diikuti senyum malu-malu yang memalukan. Suasana di sana sudah ramai. Bangku-bangku di taman itu pun kebanyakan sudah terisi. “Ayo cari makan dulu. Aku lapar. Hehe.” Ajaku ketika sampai di sana. Sudah kami putuskan bahwa kami akan makan bakso pagi itu. Pagi yang masih pagi. Langkah kami beriringan mencari tukang bakso. Cuaca sangat cerah. Begitu pula hatiku yang sedang berbunga-bunga. LDR membuatku begitu bahagia ketika diberi kesempatan untuk bertemu dengannya. Kala itu pun adalah pertama kalinya aku mengajaknya ke alun-alun.
“Kamu pindah ke sini, nanti tambah coklat.” Ucapnya ketika perjalanan itu cukup terik. Heran. Kami belum juga menemukan tukang bakso di pagi-pagi yang masih pagi itu. Hingga langkah ini sampai ke titik awal tempat kami turun dari angkutan umum. Saat aku melihat ke deretan kuliner, ternyata ada satu pedagang bakso di sana. Bukan sial atau apa. Ini karena Tuhan masih mengijinkan kami melangkah bersama mengitari pasar. Seperti biasanya, dia selalu menambahkan saus dan kecap. Bukan pula hal yang aneh jika kecap-kecap itu menginginkan lama-lama di tepian bibirnya. Aku tak mau mengelapnya.
“Apa rencanamu ke depan?” Ucapnya memecah konsentrasiku memotong bakso.
“Aku ingin melanjutkan studi.”
“Bagus. Aku ingin bekerja sembari melanjutkan studi juga.”
“Bagus. Kalau begitu, setelah ini kita abadikan momen.” Kataku sambil meniup es jeruk.
Kami berfoto sangat banyak. Entah untuk memuaskan diri atau bagaimana. Pasalnya, setiap kali kami berniat berfoto, apapun alasannya, selalu saja gagal. Namun, perjumpaan kali itu cukup membuat handphone-ku low batt. Seperti biasa, aku mulai bercerita ngaler-ngidul padanya. Ini mungkin karena kemampuan verbal aku yang tinggi membuatku tak henti-hentinya berceloteh. Dan tinggi pula padanya untuk tak bosan mendengarkan ceritaku (walau entah ia menyimak atau tidak). Kadang pula, aku memintanya untuk tertawa ketika aku bercerita hal yang lucu, namun ia tak tertawa sama sekali. Setelah dengan sedikit paksaan, akhirnya senyum ala dia mengembang. Ya.. senyum yang selalu manis. Senyum si ketua umum.
***
Langit akan mengundang hujan. Angin berhembus semakin kencang, menerbangkan debu-debu. Kami berlari menuju masjid dan menunggu hujan di sana. Cukup lama kami berdiam di sana (secara terpisah). Angkutan umum sudah menunggu kami menuju terminal Arjosari. Dia harus pulang lebih awal dengan alasan seniornya menyurhnya bertemu dengannya setelah magrib. Dengan sedih hati dan menampakkan wajah tetap ceria, aku mengantarkannya menuju terminal. Ditemani gerimis yang masih mengundang.
Aku bersalaman dan melambaikan tangan. Aku sempat ingin membelikannya sesuatu untuk dimakan di jalan, namun seperti biasa, aku selalu ditolak. Aku tak berdiam diri menunggu bus yang ia naiki melaju. Aku melangkah dengan hati tak karuan. Rasanya, senyum, tawa, kebahagiaan yang baru saja aku rasakan, bagai mimpi yang begitu cepat membawaku ke dunia nyata. Sepanjang jalan aku memikirkannya. Lelaki yang harus kuat dan tegar sedang dalam perjalanan. Aku tahu, ia tak perlu rasa ibaku. Itu pula mengapa aku tak ingin memperlihatkan atau mengatakan bahwa aku kasihan padanya.
Kamarku kembali sepi, sunyi tak beraroma bahagia. Bahkan aku enggan memasukinya atau sekedar merebahkan tubuh di kasur ber-eprei Micky Mouse. Jendela itu tak aku buka sejak aku datang ke mari. Setelah beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk tinggal di tempat Huril, di Tuban. Aku duduk di lantai. Menatap kosong pada tembok yang juga kosong. Bahkan aku tak mendengar bahwa kerinduan ini masih ingin berada di sampingnya. Aku hanya mendengar- sunyi yang amat sunyi. Di kamar berukuran 2x3. Sendirian tanpa sesiapa pun.

Jumat, 19 Februari 2016

Terbatas Kain Hitam - Edit

“Aneh. Tiba-tiba saja aku mencintai mata yang tidak benar-benar aku tatap.”

Pernahkah kau merasakan jatuh cinta, tetapi kamu tak pernah benar benar bertemu pandang dengannya? Aku mengalaminya. Ketika terik membuat kulitku semakin masak, begitupun peluhku yang semakin membanjiri. Aku duduk di bangku no 13 D sebelum wanita itu mengusirku. Ya, wanita yang tak bisa aku pandang. Hanya terdengar suaranya meminta, “Maaf, boleh tidak jika kamu duduk di situ, saya tidak biasa duduk di situ.” Mungkin karena ia adalah wanita yang sangat sholehah. Duduk pun tak mau bersebelahan dengan lawan jenis. Dengan sedikit mengangguk, aku pun pindah tepat menjadi berhadapan dengan wanita itu.
Saat itu aku setengah tersadar, pundakku terasa berat. Ah.. Ternyata ada seseorang yang bersandar di bahuku. Nampaknya seperti wanita berhijab, namun aku tak bisa melihat wajahnya. Aku terus terjaga. Perjalanan baru sampai Sidoarjo. Namun saat itu, aku merasa sedang bermimpi. Tiba-tiba aku terbangun tepat dengan kepalaku yang bersandar di kepala wanita itu. Aku cepat-cepat mengangkat kepalaku dan dia pun terkejut. Akhirnya, aku bisa melihat wajah wanita itu. Mata sipit dengan kaca mata merosot hingga ke hidungnya. Dia mengangguk kecil sambil meminta maaf. Aku hanya tersenyum lalu memberi tahu Rosa, bahwa aku akan segera sampai.
Aku berjalan tepat di depan pasar malam. Pasar itu sangat ramai dan terlihat indah dengan lampu kota berwarna kuning. Di sana pun aku mendengar lagu berjenis dangdut koplo. Tak sedikit orang yang mendengarkan, menggoyangkan jari tangannya dan menganggukkan kepalanya. Begitu pun tanpa sadar aku menggerakkan tipis kakiku. “Maaf ya lama, bibi minta aku membelikannya balsem.” Jelas Rosa, saat menjemputku. Aku tersenyum mengiyakan dan menaiki motornya.
Lampu sudah padam ketika aku melewati tempat itu. Rosa, memintaku untuk turun dan berjalan duluan. Dia kemudian menghilang di balik semak. Mungkinkah dia berubah jadi Cinderela? Aku tak perduli. Rosa, hanyalah anak kecil yang pandai mencari uang. Sepertinya ia akan pergi ke kafe untuk bekerja malam. Aku berjalan terus. Sunyi sekali. Aku hanya mendengar langkah kakiku dan suara degup jantungku. Aku mengambil handphone dan membuat penerangan. Samar-samar membuatku sulit untuk menghindari beceknya jalan itu. 5 Tahun tak ke Surabaya, membuatku pangling akan keadaanya. Apalagi gelap seperti ini. Menurut Rosa, setelah aku melewati rumah besar berwarna biru, aku harus belok kanan. Ya, aku belok kanan setelah ini. Namun, langkahku mulai meragu. Telingaku yang tajam mendengar suara dari balik gang yang akan aku lewati. Seperti langkah yang sama ragunya dengan langkahku. Aku melihat sedikit sinar yang meredup di sana. Aku membiarkan kakiku melangkah. Aku tidak ingat apa-apa lagi.
Dingin sekali. Aku merasa tanganku direndam air es. Mataku ditutupi mentimun. Wajahku dibalut masker bengkuang. Tapi, perlahan ada hangat yang menjalar dari kakiku. Naik dan semakin naik. Hingga aku merasa masker di wajahku telah dicuci bersih. Dengan sedikit khawatir, aku membuka mataku. Aku menelan ludah keras-keras. Mataku memburu sudut ruangan itu. Hanya ada satu jendela kecil dan sebuah gulungan hitam di atas kursi. Hei. Itu seperti manusia. Tapi seperti gulungan besar. Adrenalinku meningkat. Entah mengapa aku berani mendekati gulungan itu. Saat semakin dekat, kain hitam terjatuh dari sana. Nampak wajah gadis yang sangat cantik. Seperti gadis yang bersandar di bahuku saat semalam tadi. Kulitnya sangat putih, seperti susu. Atau pucat? Apa dia sudah mati? Pikirku mulai tak beres. Aku mendekatkan telunjukku ke depan hidungnya. Udara keras berhembus darinya. Beriringan itu, si gadis membuka mata terkaget hingga terguling ke lantai. Aku tak menolongnya bangkit. Aku duduk dengan cepat di tempat tidur yang hanya dua langkah dari si gadis.
“Kenapa kau melepas kain itu?”
“Kau menjatuhkannya. Aku tak melakukan apapun. Dan mengapa aku di sini? Kau menculikku?” Aku mulai curiga.
“Kau harus menikahiku.”
“Hah? Yang benar saja. Mengapa aku harus melakukannya?”
“Kau sudah bersentuhan denganku. Kau pun sudah tahu rupaku. Kau pun sudah menginap di rumahku.”
“Aku tak pernah menyentuhmu. Sama sekali tidak. Dan aku pun tak berharap melihat wajahmu yang cantik. ”Duh, aku kelepasan.
“Aku akan sangat berdosa, jika malam itu tak menolongmu. Aku takut. Kau jatuh begitu saja di hadapanku. Sementara di sana sangat sepi.” Matanya mulai berkaca-kaca.
Aku terdiam.
***
Aku sengaja melepas cadarku ketika aku ke kamar mandi. Satu per satu penumpang di tempat itu turun. Kau mungkin tak melihatku. Tapi tatapku jelas tertuju pada matamu. Kau duduk saja saat itu. Melihat pemandangan yang hanya lampu kecil di kejauhan. Kadang kau  menempelkan wajahmu tepat pada kaca. Menutupi sisi-sisinya. Sungguh sangat kekanakan untuk pemuda seusiamu. Kau membuka sebuah buku. Aku sangat terkejut, karena buku yang kau pegang adalah buku harianku 5 tahun yang lalu. Dia mulai berderai melekat di kain yang tidak kau suka. Aku mulai ingat. Kau adalah Fadli, lelaki yang meninggalkanku 5 tahun lalu. Aku sangat tak mengenalimu. Kau sekarang tampak karismatik dan lebih bersih. Suatu keajaiban bisa bertemu denganmu. Sejak itu, aku berjanji akan memperlihatkan wajahku padamu. Hingga aku berani duduk di sampingmu dan menyandarkan kepalaku. Setidaknya, aku memenuhi janjiku padamu.
Kau begitu terburu-buru. Aku sulit mengejarmu. Aku meminta kabar pada Rosa, akan kemanakah Fadli pergi. Rosa bilang, kau akan bertemu bibi. Aku menunggumu di gang itu. Gang sepi tanpa pencahayaan. Hanya lampu remang dari handphone jadulku. Rosa. Dia selalu menyampaikan salamku ketika aku ingin bertemu denganmu, tentunya ditemani Rosa. Kau bilang, “Aku hanya ingin berdua denganmu. Mengapa harus mengajak Rosa?” Aku menjelaskan padamu bahwa kita tak boleh hanya berduaan saja. Latar belakangku menjadikanku begitu lekat dengan nilai-nilai islam. Walau aku sadar, satu hal telah aku abaikan. Aku berpacaran dengan Fadli.
Aku meminta Rosa untuk menyampaikan pesanku bahwa aku rindu padamu. Kau tak muncul di tempat itu. Biasanya kau tak pernah mengabaikan rinduku. Tapi hari itu, menanti di bawah pohon belimbing yang terasa bertahun-tahun. Lama sekali. Hujan mulai turun, aku tetap menunggumu. Masih setia dengan kain yang kau benci. Aku terdiam hampir tak sadar diri. Aku menikmati pemandangan yang sudah tak nampak.
Aku mulai putus asa. Aku berjalan pulang di tengah azan magrib. Saat itu, kau muncul dihadapanku. Matamu nampak memerah. Aku tak pernah melihat matamu se-sendu ini. Kau tak juga bicara. Kau mengulurkan tangan dengan selembar kertas. “Ini yang terakhir sebelum aku pergi ke Jakarta.” Lalu kau menghilang di balik jalan gelap.
***
Aku meyukai suara itu. Suara indah yang terdengar setiap subuh. Denis bilang, itu suara milikmu. Aku menghayati setiap lantunan ayat yang kau bacakan. Aku ingin sekali melihat bagaimana wajahmu. Pasti secantik suaramu. Bahkan mungkin tatapanmu itu dapat meneduhkanku di terik ini. Aku dan Denis menunggumu tepat di depan masjid. Denis menunjukmu. Dia mengatakan bahwa gadis bersuara merdu itu adalah dirimu. Namun hingga kini, aku sama sekali tak bisa bayangkannya. Aku salah. Tak ada tatap yang meneduhkan. Hitam saja.
Kian hari, kian resah. Aku sangat ingin bertemu denganmu. Selepas magrib, aku menunggumu lagi di depan pintu. Aku tak bisa mengenali manakah gadis bersuara merdu itu. Hingga guruku menghukumku karena memasuki daerah terlarang. Daerah santri wati. Aku tak diizinkan keluar asrama selama satu bulan. Aku bak tawanan yang merindukan mentari. Tentunya pun pada suara merdu yang menenangkan jiwaku. Melakukan rutinitas di kamar sempit dengan 6 orang sahabatku.
Lewat Denis, sebuah surat dengan pita orange mendarat di tanganku. Aku membukanya perlahan. Aku melihat di akhir surat bertuliskan Fatmawati. Debarku mulai tak karuan. Mungkinkah ini Fatmawati anak Pak Haji Arifin?. Aku membacanya dengan seksama, hingga aku tak merasakan nafasku. Esoknya, kita bertemu di bawah beringin, di temani Rosa, sepupuku.
Kita ikrarkan bahwa kita menjalin hubungan. Kita selalu bertemu di tempat itu. Tapi, keinginanku selalu kau tolak. “Nanti kita akan benar-benar bahagia jika ikatan antara kita benar-benar kuat.” Aku selalu putus asa dan kadang menganggap kau terlalu sholehah. Aku bahkan tak pernah melihat ujung kukumu itu. Menatap matamu dari dekat pun, aku tak bisa melihat bola matamu. Hubungan kita benar-benar suci. Jarak kita berdiri selalu melebihi satu lengan lencang kanan.
Semakin lama, aku merasa semakin kesetanan. Aku terus memaksamu melepas kain yang menghalangi wajahmu. Kau terus berkilah dan berbalik menceramahiku. Aku menahan perasaan itu sekitar 2 tahun. Hingga aku memutuskan untuk berhenti menunggumu. Seperti biasa, salam itu sampai padaku ketika ibu menjengukku dan Rosa mengikuti dibelakang ibu. Aku tak datang sore itu. Aku tak sanggup untuk melepasmu. Mencintaimu walau tak harus menatapmu. Tapi, aku terlalu kekanakan. Aku tuliskan surat beracun itu. Mungkin akan membunuh perasaanmu.
Dalam surat itu aku tuliskan keinginan terbesarku. Aku ingin melihat matamu, menyentuhmu, dan menikah denganmu. Tapi aku tak siap jika aku harus menikahimu saat itu juga. Aku masih punya keinginan untuk melanjutkan kuliah. Maka, jika nanti kita bertemu, pastikan kau masih mencintaiku dan kau akan melepaskan kain penutup wajahmu itu. Aku merasa, kau terlalu fanatik.
***

“Jadi, kau tak ingat siapa aku?”
“Aku hanya seperti pernah mendengar suaramu. Tapi entah di mana.”
“Kau ingat Fatmawati?” Matanya semakin sendu.
“Aku rasa, kau adalah Fatma mantan kekasihku. Walaupun aku tak pernah melihatnya.” Dadaku semakin sesak.
“Aku telah menunaikan janjiku.”Dia mendekatiku dan meraih tanganku.
Terasa sangat panas. Aku mulai tak nyaman dengan suasana itu. Ternyata tatapan itu adalah tatapan yang selama ini aku nantikan. Tak sedikit pun aku bayangkan akan seperti ini aku menatapnya. Hari ini, aku sangat berdosa. Terdengar sedih suara burung dari luar. Seperti pertanda bahwa dunia sudah mengutuk kami berdua.
Nampak 20 panggilan tidak terjawab. Rosa. Dia pasti sangat cemas dengan keadaanku yang masih belum sampai tempat bibi. Aku langsung bergegas melawan rasa sedihku dan meninggalkan Fatma di tempat itu. Fatma tak mengenakan kain yang terjatuh itu. Dia seperti menatap setiap langkahku meninggalkannya. Aku bisa merasakan tatapan yang teduh itu.
“Aku semalam tersesat, Rosa. Kamu bisa menjemputku di Ahmad Yani?”
“Kau tersesat sangat sangat dekat denganku, Tunggu di sana.”
Rosa memang bagaikan ojek. Dia selalu mengantar jemput. Bukan hanya masalah itu, dia pun rajin mengantar suratku kepada Fatma. Rosa sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Aku mulai berpuisi dan membaca sebait tulisan di buku harian Fatma.
Mungkin alam akan mengerti. Bahwa dua insan ini saling jatuh cinta. Cinta tanpa ia tahu bagaimana aku dibalik kain hitam itu. Dia membuatku percaya, bahwa cinta memang dibawa dari alam untuk dipuisikan dalam hubungan ini.
Tak lama kemudian Rosa sudah berada di hadapanku. Menatapku dengan tatapan kesal. Dia memukul perutku yang kelaparan. Aku sedikit terdiam tak merespon. Aku ingat, mengapa aku tak sadarkan diri malam tadi. Aku melihat bayangan hitam sepantaranku sedang menempel di tempok. Ah.. jelas saja. seharusnya aku tahu itu Fatma. Aku dibawa Rosa menuju tempat bibi. Aku terlihat kucel katanya. “Kau seperti bocah hilang selama seminggu.” Aku tersenyum dengan ucapan itu. Bibi adalah orang yang mengurusku sejak kecil.
Aku memikirkan ini dalam 24 jam. Aku harus mantap melangkah. Aku menghitung jumlah tabunganku. Aku perkirakan cukup untuk meminang Fatma. Bibi adalah orang pertama yang aku kabarkan tentang berita baik ini. Bibi menyambut baik dan seminggu kemudian aku dan Fatma menikah. Sangat singkat. Tapi bukan waktu yang sebentar untuk menjaga hati dari wanita cantik yang bertebaran kala aku di Jakarta.
***
Berita itu sangat cepat sampai pada keluargaku, terutama umi dan abi. Mereka  menyetujui pernikahan aku dan Fadli. Malam itu aku pergi menemui Fadli. Aku sudah tak mengenakan kain hitam itu sejak hari aku menampakkan wajahku pada Fadli. Aku melihat Fadli sedang menatapi layar laptopnya ketika aku sampai. Aku duduk tepat di hadapannya. Wajahnya penuh tanda tanya. Wajahku pun penuh dengan jawaban. Aku mengatakan padanya, abi ingin bertemu denganmu malam ini.
Di ruangan itu, abi dan Fadli tampak serius sekali. Aku sampai tak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan. Kecuali, “Kau akan menikahi anakku lusa.” Fadli terlihat pucat. Mungkin sebentar lagi ia akan pingsan sama seperti saat dia bertemu denganku. Fadli bersalaman lalu pamit pulang. Kesabaran menjadikanku benar-benar menjadi peneduh untuknya. Malam terindah sudah tak terbatas kain hitam akan benar-benar aku nikmati.

Kamis, 18 Februari 2016

Orang Menyebutnya Caliandra

“Matamu berkaca-kaca lagi? Biasanya orang pun akan mengatakan itu ketika langit mulai menurunkan hujan tipis-tipis. Katamu: “Alam mengerti perasaanmu. Kita pasti akan berjumpa lagi."
***
     “Kapan kita bertemu lagi?” Kalimat yang terngiang sepanjang perjalanan. Ketika itu, aku sangat merindukanmu. Kau pun mengatakan hal yang sama. Kau masih ingin melihatku. Tak jarang pula kau ucapkan inspirasi-inspirasi untuk bertemu di Eiffel; candaan yang membawa kita kepada sebuah keseriusan yang orang anggap seperti Caliandra.
"Harus saling support. Harus pinter (IPK bagus). Harus saling pengertian. 2016 harus ada karya yang dimuat. Pandai berbahasa Inggris. Paris."
Jam 06:00 pagi. Demikian kau janjikan untuk mengantarku menuju stasiun esok hari. Aku mencoba agar lekas terlelap diantara suhu yang semakin meningkat dan rendahnya oksigen di kamar temanku, Mara. Aku pandangi wallpaper yang belum berubah sejak aku mendapatkan potret itu. Ya.. Lelaki dengan senyum damai yang memamerkan alam yang menitipkan rindu lewat sinar senja di tepi pantai. Aku sampai berkedip-kedip perih karena memandanginya terlalu dekat. “Mari kita ambil beberapa foto sebelum kita berpisah?” Muncul sekelebat pesan yang kau berikan. “Aku setuju.” Lalu mengatur alarm.
Kuputar badan ke kanan dan ke kiri. Aku belum juga bermimpi. Kupandangi langit-langit tempat tidur tanpa menghitung anak domba. Aku lirik ke arah jam yang masih menunjukkan pukul 23:15. Nampaknya pikirku masih ingin mengkhayalkanmu yang kini jaraknya hanya sekitar 4 gang dari kost temanku, Mara. Aku ingin menyebut, Mara, temanku. Temanku karena aku mengenal dirimu. Singkatnya, Mara adalah temanmu yang kini menjadi temanku.
Aku memikirkanmu. Kau yang serba sibuk dan dikejar deadline. Mahasiswa asal Bojonegoro yang tak jarang menjadi bahan lelucon di kelasnya. Begitu pula Bojonegoro yang selalu membuatku ingin menemuinya. Terutama jika musim mangga telah tiba. Aku tahu kau masih bahagia tanpa aku. Tanpa ucapan “Selamat pagi. Semoga harimu menyenangkan.” Atau “Semangat untuk hari ini.” Aku tahu kau masih mempunyai mereka yang selalu membuatmu memikirkannya atau menghabiskan waktu dengannya. Itu anggapanku. Berbeda jika kau bercerita tentangnya. Kau merasa bahwa mereka kadang menganggapmu lemah dan tak bersemangat. Kadang mereka membawa tentang hubungan ini. Tak jarang pula aku mendengar: “Kok dia mau sama kamu sih?” dengan nada mencemooh. “Kamu sangat beruntung bisa mendapatkan dia. Berbeda dengannya. Musibah mendapatkanmu.” Lanjut mereka dengan nada yang sama. Aku tahu kau masih bahagia.
Kau masih berjuang dengan sisa pemberian orang tuamu. Aku mungkin sedang minum es teh atau membeli pentol khas Malang. Berbeda denganmu yang mungkin sedang galau dengan perlakuan apa yang pantas diberikan pada sisa-sisa si penyelamat perut esok pagi. Belum lagi katamu dengan teman perjuanganmu yang sobek hari ini. Si hitam yang membawamu bertemu dengan Mozzam Malik. Juga dengan yang katamu si kekasih hati. Bagaimana aku tak bahagia mendapatkanmu? Juga atas kalimat indah yang kau kirimkan lewat email beberapa minggu yang lalu. Kau terlebihkan. Si gingsul yang selalu membuatku ingin kembali ke stasiun.
Dering alarm memecah kesunyian. Hanya alarm. Tak ada suara ayam berkokok karena waktu telah menunjukkan pukul 04:30 pagi. Belum lagi lokasi kamar Mara yang jauh dari pintu masuk yang mungkin akan menahan gelombang dari ayam berkokok. Lekas aku “PING PING PING”, agar matanya terbuka dan lekas menunaikan shalat subuh yang hampir terang.
Pukul 05:30. Nyawanya mungkin masih di alam mimpi. Terlihat pesan BBM yang masih delivered. “Sejak awal aku tahu bahwa kau tumor. Alias tukang molor.” Bisa-bisanya dia terlelap sangat lama ketika suhu pagi hari saja mungkin terasa pukul 09:00. Aku melihat langit masih belum terdapat goresan orange. Berbeda dengan burung yang sedang berbaris sambil bernada seolah mengucapkan selamat pagi kepadaku. Pagi yang orang jawa timur akan mengatakan “Sumuk.”
  Mara masih tertidur. Wajahnya bercucuran keringat seperti sedang sauna. Aku melangkah menuruni anak tangga yang jaraknya pendek-pendek. Membuatku tanggung untuk melewatinya satu per satu. Langkah yang khas ini sudah mengantarkanku melewati 2 gang. Para produsen dan konsumen sedang melagu tawar menawar dalam bahasa jawa. Jelas saja aku tak paham. “Sekawan-sekawan.” Katanya menunjuk komunitas rempah-rempah. Hingga langkah khas ini sampai pada halaman kontrakannya. Masih sepi. Artinya masih bermimpi.
“Tunggu sebentar.” Balasnya singkat dari sekian pesan yang aku kirim. Aku sudah tahu arti kata sebentar untuknnya. Sebentar adalah arti ketika aku dimintanya untuk menunda bertelepon sejak pukul 20:00 hingga melewati dini hari. Begitu pula sebentar yang dia artikan sebagai pertemuan dengan kawannya hingga aku bisa melakukan rutinitasku seperti mencuci, mengepel, dan menyapu kenangan.
“Aku siap.” Ucapnya ketika jarak kami hanya satu lencang kanan saja. Kau pasti akan tahu bagaimana rasanya berjongkok di depan kontrakan dengan mencoret-coret paving blok. Atau bercengkrama dengan kesunyian. Tapi itu bukan masalah lagi ketika senyummu mengembang. Kau membiarkan gingsul melihat dunia.
Kita duduk berdampingan menunggu waktu perpisahan tiba. “15 menit lagi.” Kataku melirik jam tanpa detikkan. Aku menatap matamu yang kadang memancarkan kesedihan. Juga merasakan genggaman tanganmu yang terkadang hampir meremukkan tulangku. Hingga kita kaitkan kelingking mungil kita. Ala masa kecil ketika akan mengucapkan janji. Ya.. Janji besar yang dengannya kita tersenyum. Berat memang menahan lelah disiksa rindu. “Kita bisa melakukan yang terbaik jika bersama.” Ya.. Bersama. Kau di Surabaya dan aku di Malang. Kita melakukannya bersama dalam setiap doa.

Rabu, 17 Februari 2016

Ketika Senja Diambang Batas

“Angin berhembus tak santun. Beriringan dengan itu pun daun berguguran menyambutku menuju tepian danau. Danau Februari, begitu kami menyebutnya. Aku ingat bahwa hari ini adalah hari yang kau janjikan untuk memberikanku hadiah. Dengan sabar aku menunggu dengan selembar kertas bertuliskan 3,5.”
***
Nomormu tulalit sejak tadi pagi. Aku tahu bahwa kau pasti sedang sibuk dengan kegiatan di kampus. Dengan langkah tenang aku memperhatikan setiap pengunjung danau siang ini. Hanya beberapa saja yang datang. Aku, dan dua orang wanita sebaya denganku yang kini sedang duduk di tepian danau. Seperti biasa, ransel orange-ku selalu penuh. Kau tahu pasti aku merasa lelah dengan barang bawaanku ini. Kau pasti akan membawakannya dan mencubit pipiku.
Hari ini akan menjadi hari yang membahagiakan setelah satu semester kita tidak bersua. Aku membawa KHS (Kartu Hasil Studi) yang kau minta. Kau mengatakan bahwa jika aku lebih baik darimu, kau akan membelikanku eskrim. Bagiku, eskrim memang manis dan menyejukkan. Lebih lagi denganmu, kau lebih manis dan lebih santun dari hembusan di siang menuju sore ini.
Aku menghitung lama waktu kau tak mengabariku. Mungkin sekarang kau masih sibuk di kampus dan mengurusi banyak hal. Tapi, aku yakin kau tak akan lupa dengan janjimu. Wanita itu mulai pergi dari pandanganku. Kini hanya ada aku dan Februari yang menanti kehadiranmu. Hingga aku terduduk dan terlelap. Hembusannya menentramkan hatiku yang gelisah. Hamparan air itu membuatku merasa sejuk. Terlebih pula pada siluetmu. Senyum lebar terkembang memamerkan gingsul, mata menyipit dan aku semakin terhanyut dalam penantian di senja ini.
Ah.. Kau masih sibuk nampaknya. Hingga hujan ini turun diantara perasaan yang mulai damai. Langkahku setengah berlari menghampiri gubuk tua di samping pohon ini. Angin semakin tak santun dan kupeluk ransel besarku untuk menghangatkanku. Aku masih ingin menunggumu. Bahkan hujan ini tak menginginkanku pergi dari sini. Ia menahanku seperti Resimen Mahasiswa yang menahan jurnalis kampus. Mungkin alam ingin aku tetap di sini menantimu.
Warna jingga itu semakin jingga. Lampu di sepanjang jalan mulai memancarkan warna orange khas lampu jalanan. Hujan masih rintik. Kau mungkin tak akan datang. Ingat juga bahwa kau alergi terhadap hujan. Aku senang dengan bintik-bintik merah di tanganmu. Tapi jika wajahmu memancarkan kesedihan yang tertahan, aku bisa apa selain memarahimu karena menembus hujan? Aku berjalan perlahan. Berharap langkah yang lebar-lebar ala kamu segera sampai kehadapanku. Dengan harap harap cemas aku berjalan perlahan menuju pintu gerbang.

***
Sejak pagi ini sinyal hanphone-ku nyala mati. Padahal aku belum memberi kabar padanya bahwa aku ada kunjungan ke kampus sebelah untuk memenuhi undangan. Kau mungkin sudah menunggu di sana, dengan ransel orange-mu yang selalu terisi penuh. Kau selalu mengeluhkan itu padaku. “Aku pegel nih..” Katamu mengkode aku untuk membawakannya. Ekspresi wajahmu selalu membuatku tak tahan untuk sekedar mencubit pipimu. Kau selalu terlihat manis.
Aku harap kau tak lupa untuk membawa KHS semester ini. Karena aku yakin, semester ini kau akan mentraktirku. Walau aku sempat mendengar bahwa kau mendapatkan nilai A di 4 sks mata kuliahmu. Aku sudah siapkan pesananmu. Aku simpan di pendingin di ruang kerjaku. Aku harap kau masih menunggu di sana. Aku akan menyelesaikan tugasku sebelum pukul 4 dan langsung mengunjungimu.
Penerima tamu mengatakan bahwa acara akan ditunda sampai pukul 3, sementara aku harus segera menemuimu. Belum lagi langit mendung sedang mengundang hujan. Sinyal handphone-ku semakin tak karuan. Tak satu pun pesanku terkirim. Aku khawatir kau akan kesal dan meninggalkanku. Tapi aku pun harus menghadiri undangan ini. Menghormati LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) kampus sebelahku.
Akhirnya hujan turun deras. Mungkin kini kau sedang berteduh di gubuk tua di sebelah pohon itu. Aku bayangkan kau yang sedang memeluk ranselmu. Kau pasti sangat kedinginan. Aku semakin khawatir padamu. Tapi, bila kuingat senyummu, perasaanku menjadi damai. Terlebih lagi kau yang selalu menunjuk gingsulku ketika aku tertawa lebar oleh tingkahmu. Ketika mataku menyipit karenanya, kau berkata bahwa kita kembar. Ya, mata sipitmu yang membuatku tak henti memperhatikan kemanakah hilangnya lingkaran hitam di matamu.
Aku tahu kau akan sabar menunggu. Kau pun tahu bahwa aku tak akan ingkar janji. Waktu sudah menunjukkan pukul 5. Aku segera menyudahi pertemuanku yang sudah berjalan setengah jalan. Ketika itu, hujan masih sangat lebat. Kau pasti akan marah jika aku menemuimu dengan diiringi tangisan alam ini. Aku kemudian menatapi langit dan berharap agar hujan ini segera berganti dengan pelangi. Seperti katamu bahwa aku adalah pelangimu. Kebahagiaan setelah hujan kekecewaan.
Berdiri menatap hujan yang belum juga reda. Dengan harap-harap cemas bahwa kau masih menantiku di sana. Sudah kugenggam kresek berisi pesananmu. Kurasa dinginnya udara mampu menahan agar es ini tetap membeku. Teringat pula dengan perkataanmu di sebuah gazebo dekat Fakultas Ushuluddin. “Aku ingin menjadi anggota Resimen Mahasiswa saja kalau begitu,” ketika kataku bahwa Resimen Mahasiswa yang suka mengahalangi para jurnalis. Wajahmu sungguh bahagia mendapatiku tersudut dekat tembok. Dan alam yang masih bersedih ini menahanku untuk menemuimu. Aku tahu kau akan marah jika aku menembus hujan. Aku terus menimbang hal ini. Belum lagi alergiku yang akan menjadi-jadi ketika kulitku bersentuhan dengan hujan.
Aku melihat di sekitar kampus sudah tak ada lagi makhluk yang berkeliaran. Aku langsung berlari menujumu. Dengan kantung kresek yang berayun ayun seriring langkahku. Aku melihat jalanan pun telah sepi. Hanya ada aku yang berjalan di bawah lampu jalan menuju danau . Lampu kuning khas lampu jalanan mulai menyala. Aku percepat langkahku. Berharap kau masih menungguku.
***
Gerbang itu telah ditutup. Bahkan ada gembok yang menyatukannya. Aku kira tak mungkin kau masih ada di dalam. Aku melihat sekeliling, mungkin kau sedang berjalan menuju persimpangan. Aku sengaja mengambil jalan pintas supaya lebih cepat menemuimu. Hanya ada pohon yang kesepian dan angin yang menusuk hingga ke tulang. Aku langkahkan kaki dengan putus asa. Kresek ini pun mungkin bersedih karena tak bisa memberikan isinya kepada gadis cantik yang memiliki IP baik di semester ini.
“Kau lama sekali. Aku sampai kedinginan menunggumu.”
“Kau muncul dari mana?” Ucapku gelagapan.
“Dari balik pohon yang kesepian.”
“Aku kira kau sudah pulang. Maaf karena hari ini aku terlambat menemuimu.” Kuberikan eskrim yang hampir mencair.
“Aku kira kau tak akan datang. Hujan pasti menghalangimu bertemu denganku.” Tangannya meraih kantung kresek yang lecek itu.
“Ya.. Hujan menghalangiku dan menahanmu tetap di sini.”
“Ini adalah pertemuan kita yang sangat mengesankan. Aku berikan rindu yang telah menggunung yang aku simpan sejak awal semester ini.” Kedua tangannya seolah menahan beban.

Selasa, 16 Februari 2016

Alif dan Dunianya



Ini akan terdengar sangat klasik. Kisah anak muda yang saling mencintai dengan jarak diantaranya. Aku sangat ingat, kami tak pernah ada hubungan apa pun hingga email yang tak pernah aku kirim itu sampai kepada Alif. Aku sangat ingat pula ketika Ahmad Yani yang mulai mendung itu mempertemukan mata kami untuk pertama kalinya. Alif adalah pria mungil yang memiliki kecintaan besar dalam dunia menulis. Hingga aku pun mulai menintai dunia itu. Alif memperkenalkan kecintaannya itu perlahan, mulai dari sebuah catatan yang rutin ia buat, sampai sebuah bukti nyata tulisannya yang di muat di sebuah media. Beriringan dengan itu pula kemudian kami membangun pertemanan yang menjadi sebuah hubungan yang kebanyakan orang menyebutnya klasik.
“Membaca dulu, baru kemudian menulis.” Begitu kata Alif saat aku ingin menulis sebuah cerpen. Bahkan Alif bisa membuatku ingin menjadi seperti dirinya. Pada suatu pertemuan, Alif memberikan aku sebuah buku karya Ahmad Fuadi. Sejak itu keinginanku menjadi seperti Alif semakin menjadi-jadi. Alif pun tak kalah antusias denganku, dia kadang menantangku untuk menulis dan menerbitkannya di media namun, jelas saja Alif selalu melakukan yang terbaik ketimbang denganku. Masalahku adalah dengan inspirasi yang pada akhirnya merujuk pada sebuah romantisme pemuda masa kini. “Inspirasi itu dibuat, bukan ditunggu.” Kataya kemudian yang mencoba menyemangatiku.
Ini mungkin karena alif mencintai sastra. Aroma tulisan yang ia muat selalu membuatku terpukau akan betapa indahnya kalimat yang terlukis di layar netbookku. Belum lagi cerita Caliandra yang seolah menceritakan dirinya sendiri. Seolah aku Caliandra, dan  Alif sebagai tokoh utamanya. Caliandra yang menjadi curahan hati Alif, namun sayangnya Caliandra hanyalah sebatang tanaman yang kesepian. Ya, aku kesepian dengan dunia Alif yang begitu ramai.
Alif dan aku adalah sosok yang berbeda. Kami mencintai dunia yang sama namun dengan cara yang berbeda. Setiap tulisan yang aku pamerkan pada dunia adalah tulisanku tentangnya. Berbeda dengannya yang tak pernah sedikit pun menuliskan hal tentangku. Alif yang pendiam dan aku yang begitu gila. Mungkin karena aku adalah seorang wanita, emosiku begitu besar akan perasaan yang Alif anggap biasa saja.

Senin, 15 Februari 2016

Takdir yang Tidak Diharapkan

“Bintang itu terlihat sendirian, sama sepertiku. Di sudut kamar dengan harap-harap cemas menanti keputusan sang pembawa takdir.”
***
Sejak kakakku Ike lulus dari SMAN 8 Bekasi, ia memutuskan untuk bekerja di sebuah pabrik di Katapang.  Sebenarnya kak Ike ingin melanjutkan kuliah, namun karena orangtuaku bekerja sebagai buruh, kak Ike memilih bekerja dan menghasilkan uang sendiri untuk membiayai kuliahnya. Menurutku, kak Ike adalah orang yang ulet dan memiliki etos kerja yang tinggi. Ia bekerja 8 sampai 11 jam dalam sehari.
Suatu hari, kak Ike meminta izin kepada ibu dan ayah untuk tinggal disebuah kost-an dekat tempanya bekerja. “Capek juga kalau harus bolak-balik setiap hari, sayang juga uangnya buat ongkos,” katanya sambil menghidangkan sarapan pagi. Ayah dan ibuku hanya saling berpandangan dan menyuap nasi seperti tak merasakan rasa sambal yang menurutku sangat pedas. Setelah kakakku menghabiskan sarapannya, ia langsung pergi bekerja dan melangkahkan kaki lebar-lebar melewati halaman rumah.
Aku tahu, kakakku adalah orang yang sangat prihatin. Bahkan aku tahu, saat kakakku duduk di bangku SMP, ia sering pergi ke kebun untuk memakan nanas muda. Ibu tidak memasak karena ayahku dulu bekerja keliling kota dan tak tentu kapan ia pulang. Belum lagi ketika ia menghabiskan waktu 3 tahunnya dirumah saudaraku, sekolah dan bekerja untuk membiayai sekolahnya. Keadaan yang keras, mendidik kakakku menjadi orang yang mandiri dan bertanggung jawab. Selain itu, kak Ike adalah kebanggaanku, aku ingat nilai Ujian Nasional SMAnya yang memiliki nilai rata-rata diatas 8.
***
Siang harinya, aku mendengar ibu sedang mengobrol dengan ayah, membicarakan perkara keinginan kak Ike untuk tinggal di kost dekat tempat kerjanya. Aku yang baru pulang sekolah, iseng ikut mendengarkan perbincangannya dari balik pintu.
“Bukan apa-apa, takut Ike kenapa-kenapa. Ibu kan tahu sendiri pergaulan anak zaman sekarang itu seperti apa,” kata ayah sambil memindahkan channel televisi. Sementara itu, ibu terlihat mondar-mandir dihadapannya sembari memegangi secangkir teh yang aku rasa sudah dingin. Aku yang sudah sekitar 10 menit duduk di depan teras, kemudian berlalu ke rumah Ita untuk membayar arisan. Langkah demi langkah aku perhatikan pergantiannya, sembari mengingat kekhawatiran ayah soal kak Ike. Aku lebih setuju pada ayah. Akhir-akhir ini aku melihat kak Ike sering menatapi layar ponselnya, aku kira kak Ike memiliki kekasih. Padahal aku tahu, sejak SMP sampai SMA, kak Ike tidak pernah terlibat soal percintaan. Berbeda sejak kak Ike tinggal disini, ia sering bergaul dengan kelompok pemuda yang menurutku kurang baik. Walaupun aku tahu, kak Ike bisa menjaga diri, tapi tak menutup kemungkinan sesuatu yang buruk dapat mempengaruhinya.
            Sepulang dari rumah Ita, aku melihat ayah sedang menyiram bunga, dan kak Ike sedang bermain dengan ponselnya. Aku yang baru datang, langsung menyalami ayah dan juga kak Ike lalu masuk ke rumah. Saat itu, aku melihat ibu sedang memasak, tapi aku heran mengapa kak Ike tidak membantu ibu dan malah asik dengan ponselnya. Terkadang aku melihat ia senyum-senyum sendiri dan menelpon tengah malam yang mungkin itu pacarnya. Aku ingin menegur kak Ike, tapi aku sungkan karena kak Ike dan aku berbeda ayah. Bahkan kak Ike pernah bilang: “Kamu tuh enak punya ayah, segala kalau mau pasti dituruti. Beda dengan kakak. Kakak harus melakukan semua sendiri, bahkan saat SMP kakak sering disuruh mencari rumput untuk kambing-kambing. Jika kakak tidak menurut, kakak akan dimarahi dan itu rasanya sangat tidak enak.” Aku saat itu hanya tertunduk dan merasa iba pada kak Ike. Mungkin kak Ike benar, hidup aku lebih beruntung darinya. Tapi, aku tak sampai pikir kak Ike beranggapan bahwa ayah pilih kasih. Bagiku, ayah itu ayah yang adil.
            Ketika embun masih membasahi dedaunan, aku melihat kak Ike sudah siap dengan beberapa tas yang terisi penuh. Apakah kak Ike diizinkan untuk pergi? Kemudian ibu menyusul dari belakang dan membawakan sarapan yang dibungkus daun pisang.
“Satu pesanku, jaga diri baik-baik dan jangan lupa beribadah,” kata ayah yang saat itu sedang duduk membaca koran.
“Jika ada apa-apa, bilang pada ibu. Sering jugalah main kemari jika ada waktu luang,” ibu berpesan sambil memeluk kak Ike.
“Iya ayah, ibu. Ike pasti akan jaga diri baik-baik dan selalu ingat pesan ayah dan ibu.,” jawab kak Ike sambil menyalami ibu dan ayah.
“Kamu juga jadi anak yang pinter ya, jangan malas-malasan” pesan kak Ike padaku kemudian.
Pagi yang haru, membuatku kembali teringkat akan kepergian kak Ike saat ia harus bekerja untuk melanjutkan sekolahnya. Aku mengantar kak Ike sampai angkutan kota, dan memandanginya hingga hilang di ujung jalan. “Aku pasti akan merindukanmu kak,” Bisikku dalam hati.
***
Siang itu, aku baru selesai mengerjakan tugas kelompok. Ayah saat itu sudah pulang dari berkeliling kota dan membawakan aku belimbing yang besar-besar sesuai permintaanku. Aku ingat pula, hari ini sudah 3 bulan kak Ike tidak berkabar pada keluarga. Niatku ingin berkunjung ke tempatnya, tapi ayah tak mengizinkan. Aku rindu pada kak Ike, walau kadang kak Ike suka menyubitku dan menyisakan warna merah padanya. Kak Ike tetaplah kakakku. Hingga malam menjelang, handphone milik ayah berdering tak biasanya. Aku saat itu asik saja memakan belimbing. Hingga rona wajah ayahku berubah sangat marah dan kesal. “Telpon dari pak RT, katanya kita di suruh ke tempatnya kak Ike.” Ibu yang mendengar hal itu langsung mendekat dan bertanya atas hal apa yang terjadi. Singkatnya, kak Ike akan dinikahkan dengan seorang pemuda karena ketahuan berduaan di kamar kostnya. Aku sungguh sedih bukan main mendengar hal itu. Kakak kebanggaanku kini telah mencoreng nama baik orangtuanya. Malam yang terasa panas itu hanya menyisakan aku sendiri, di sebuah kamar sepi tanpa pencahayaan. Ibu dan Ayah memutuskan untuk datang ke tempat kak Ike.
Malam yang mendebarkan itu akhirnya berlalu. Seharusnya kak Ike bisa bebas jika ia memang tak melakukan sesuatu yang tak diinginkan. Namun setelah dirundingkan sampai ke pihak kepolisian, kak Ike diharuskan menikah dengan pria itu, Andri. Bukan lagi ibu atau ayah, tapi aku. Aku merasakan betapa sesaknya dada ini mendengar keputusan itu.

Hari di mana kak Ike menikah akhirnya tiba. Aku tak menghadiri acaranya dengan alasan aku sibuk di sekolah. Entah mengapa aku menjadi benci pada kak Ike. Bahkan aku tak ingin melihatnya lagi. Kebencianku sungguh kelam dan aku tak bisa membuat kopi hitam menjadi sebening embun pagi.
 

Kartini Nurhasanah Template by Ipietoon Cute Blog Design